Feed on
Posts
comments

..patah..

Di gerbong kereta Ekonomi AC.

“Mbak, novelnya sedih banget ya? Sampe sembab begitu?”

Novel ber-genre fiction-horror itupun dia benamkan diwajahnya. Bagi Nona, mengalihkan konsentrasi ke media manapun nggak akan membantu banyak, segala aliran rasa dan air matanya tetap tak bisa dia hentikan.

==================================================================================

Di kantor.

“Udahlah mbak, muka lo itu emang udah maksimal, nasip lo cuma dua, kalo nggak ditolak, ya diputusin…”

Pulpen murah meriah itupun akhirnya mendarat di kepala adik kelas, dan sahabat, sekarang teman satu kantor Nona yang memang sedari dulu hobi nyela tanpa pandang bulu.

==================================================================================

Di chat ym.

“Non, lo jangan terlalu mendewakan si dul, kasian dianya…”

Jemari Nona mengambang kaku diatas keyboard. Mendewakan? Dahinya berkerut. Nona bahkan tak mengerti maksut dan artinya. Pikirannya terlalu kosong saat itu.

==================================================================================

Di chat ym yang lain.

“Ah cemen, cuma segitu doang lo…???”

Nona memejamkan mata, menghela nafas yang terasa amat berat, kemudian me-reply chat tadi dengan lambat: “Iya….. gw emang cuma segini doang”.

==================================================================================

Di chat fb.

“Lo jangan sampe deh ngadu ama dia kalo gw cerita-cerita semua ini. Lo nggak mau gw berantem sama dia kan, non? Gw sayang sama dia, buat gw.. selain jadi sahabat, dia itu laki-laki yang sangat baik..”

Nona membuyarkan pandangannya, berharap semua cerita ini tidak nyata dan nggak pernah terjadi.

==================================================================================

Di telpon.

“Kenyataan itu memang pahit, tapi harus diterima. Gw sengaja nggak mau nutupin apapun dari lo, non. Gw pun udah beberapa hari ini pusing.. bingung mau bilang ama lo-nya gimana. Tapi gw udah janji sama nyokap bakal ngomong ke elo. Gw harap penjelasan gw cukup diplomatis..”

Nona tiba-tiba saja merasa pusing, limbung, berkunang-kunang, mual, dan seperti tiba-tiba menciut ditarik meluncur kedalam gravitasi pusat bumi. Dunia tiba-tiba jadi tempat yang teramat asing buatnya. Setengah mati diaturnya nafas yang tanpa arah itu. Lalu dia katupkan seluruh wajah kedalam tangkuban jemarinya yang basah.

==================================================================================

Di sms.

“Hah kerokan lagi…? Lo penyakitan amat semenjak diputusin adek gw… hahaha…”

Nona tertawa keras, menertawai dirinya sendiri. Ternyata, sudah sebegitu parahnya psikosomasis phase yang dia alami. Mungkin sebentar lagi nona betul-betul akan memasuki fase skizofrenik. Nona nggak akan pernah tau.

==================================================================================

Semua kenangan Nona bersama dul bersifat transendental, yaitu berkaitan dengan sesuatu yang berada diluar jangkauan pengalaman biasa dan ilmiah. Bagi Nona, Dul adalah pelabuhan terakhirnya.

Namun, takdir telah merampasnya, merampok semua kebersamaan yang selama ini dia pikir nyata dan ada. Bagaimanapun pedih, Nona sadar, giving all her love is never put a guarantee that he will love her back.

“Allah… ampuni aku…” sajak Nona terbata-bata sambil meremas hatinya yang mendesak sesak. Matanya mulai berkaca-kaca.

Malam itu sedikit temaram walaupun sepotong bulan tergantung agak terang. Nona ingin sekali sembunyi di tetes air di ujung daun talas agar meretas, dan melupakan jejak Dul pada sisa-sisa hujan sore itu. Tapi sungguh, disaat lupapun Nona tak dapat melupakan Dul.

Retorika ini mungkin berarti beda bagi si Dul. Tapi bagi Nona, keduanya sama saja. Sama-sama rentan, sama-sama merasakan kehilangan.

Dalam langkahnya yang diseret lambat-lambat, Nona berlari dari semua rasa yang dia batasi. Dia seka untuk yang kesekian kali tetes airmata itu menggunakan bahu tangannya. Nona tak pernah tahu berapa lama Dul singgah dihatinya, tapi irama Dul serupa iringan detak jam dinding yang dia hapal.

“Ampun Allah.. Ampuuuun… belas kasihanilah aku…” bisiknya lirih lalu bersimpuh terisak ditanah basah.[]

==================================================================================

..Spasi..

Seindah apapun huruf terukir, dapatkan ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah dia dimengerti tanpa ada spasi?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang berdekatan, tapi ia tak ingin tercekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah akan mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi, jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.[]

(Spasi - Filosofi Kopi by Dee)

================================================================================================================

Kau dan aku mengembuskan napas, tak lagi pengap, tak lagi bergerak. Namun diam itu telah runtuh. Dan aku telah mampu menyebrang. Aku telah mampu mencinta tanpa takut kehilangan cinta.

.keinginan yang membutakan.

Dari cinta timbul kesedihan, dari cinta timbul ketakutan, bagi mereka yang bebas dari ikatan cinta, tiada lagi kesedihan dan ketakutan.

Gw pandangi tulisan pada foto yang ter-tag di facebook gw. Seorang sahabat memberikannya dengan maksut tertentu. Sayang saat foto itu ditag, gw belum sepenuhnya sadar untuk memahami wawasan yang terkandung pada tulisan tersebut.

Gw mulai paham wawasan tadi setelah rasa ANEH itu datang. Rasa aneh yang lama kelamaan gw sadari sebagai penanda bahwa gw mulai bisa jatuh cinta lagi.

Gw tipikal orang yang GAMPANG tertarik dan kagum dengan orang lain, BUT on the contrary, gw sangat SULIT untuk jatuh cinta (bahkan saat pria itu sudah gw pacari belum tentu juga gw bisa merasakan yang namanya jatuh cinta sama dia).

Gw nggak bisa yakin bahwa seorang lelaki akan tetap manis dan baik hati setelah ia berhasil menikahi gw. Gimana kita bisa tahu kalau lelaki itu ternyata suami yang payah? Yang suka memukuli, mencaci maki, Menghina, pelit, cemburuan, suka berbohong dan berkhianat??

That’s why I never beg for somebody elses’s love. Gw benci kekalahan. Gw nggak mau merebahkan ego gw. Gw sebel kalo dikiritik. Gw ogah untuk mengikuti cara pandang orang lain yang nggak sesuai sama kata hati gw. Gw gampang banget ILFIL bahkan untuk hal remeh. Pokoknya, I just…. DON’T easily fall for someone.

But now, I really fall, I fall deeply. Both deeply happy and deeply wounded.

Deeply happy when I satisfy my ego by having him as mine. Deeply happy is when I can silently catch the wind and whisper his name on it. Deeply happy is for seeing his mudlle face while he sleeps. Deeply happy is when we eat together and he took half of my rice because of.. I’m on a diet. Deeply happy is even when I can’t found any word for a simple poem that I want to write because of him. Deeply happy is when I can hold him tight with my tears go down into his jacket for he never know it.

But I deeply wounded to know that he doesn’t even care for me a bit. Deeply wounded when I have to stay away as much as I can. Deeply wounded when I saw him happy without my presence. Deeply wounded when I can’t see him in days. Deeply wounded when I can’t let him go, imagining he belongs to someone else. Deeply wounded when I dreamed that I can’t find him in everywhere. And deeply wounded whenever I see him wounded for any kind of wounds.

============================================================================

Sampai pada suatu ketika, sahabat gw, sebut aja Jay, seorang dukun kenamaan (hahaha of course not the REAL one) menumpahkan resah dan kegundahannya ke gw.

“Kamu iku loh selalu saja menderita karena cinta. Serius loh iki! Menurutku bakatmu ancen ngono. Dengan cara pandangmu rasanya dunia ini… menyedihkan.”

Pandangan gw lurus, dingin tanpa ekspresi.

“Dia merasa kamu yang butuh dia… bukan saling membutuhkan. Dan hubungan gak bisa dibina dengan cara seperti itu…”

Gw mendengus lirih. He’s not like that. Like I need him, he also needs me.

“C’mon buanglah sikap… ugh.. sorry pedes… janganlah bersikap mengemis!”

Gw masih terdiam, tanpa ekspresi. Hm, bersikap mengemis..? Am I??

“Ngene Rum… ikuti aja air mengalir.. jangan ngoyo. Kalo memang jodo, ya biar jadi. Kalo gak jodo ya wis ghak popo. Jadi jangan berusaha dengan segala macam cara untuk mempertahankan, tapi bersikaplah tegas dan jelas. Tegas rela bila harus kehilangan!”

Nope, I CAN’T. For now, I DON’T WANT to let him go. I have deeply fallen for him.

“Kalau arah hatimu sudah jelas, raga ini gak perlu diperintah wis jalan sendiri. Rak perlu kakehan mikir.. ning aku rung yakin awakmu sanggup.”

Fiuh. Gw menghembuskan angin parau dari dalam dada gw.

“Kalo kamu gak MERASA TAKUT kehilangan, sudah pasti itu yang akan kamu lakukan! Ah, bagian yang paling terpenting sekarang hanya: BUANG rasa takutmu tadi. Semenjak jatuh cinta, aku pikir kamu jadi semakin bodoh.”

(Heavy sigh). Betul juga sih, selama ini berarti.. gw setengah mati ketakutan kali ya?

“Sebenernya awakmu sudah tahu bab kuwi… ning dibutakan oleh keinginan.”

Gw terdiam sangat lama.

============================================================================

Dibutakan oleh keinginan. Gw menarik nafas sambil memejamkan mata. Hufff..

Pikiran gw terbawa ke masa kurang lebih setahun lalu, disebuah Wihara yang suasananya sangat gw suka. Tenang. Cuma ada gw dan desiran angin. Disitulah pertama kali gw ketemu Jay.

Mata gw tertuju pada ukiran batu di lantai keras itu. Lingkaran yang menggambarkan sebuah daur infinite: Ayam, Ular, Babi lalu kembali lagi ke Ayam. Terus berputar disitu: Loba-Dosa-Moha. Ayam melambangkan ketakutan/kebencian. Babi melambangkan kebodohan. Dan Ular melambangkan kerakusan.

Ditengah kebingungan gw, Jay datang dan menjelaskan makna dibalik ukiran itu. “Keinginan akan menimbulkan ketakutan/kebencian. Kebencian akan menimbulkan kebodohan. Dan kebodohan akan membuat kita makin rakus.”

Kita harus mampu membebaskan diri dari KEINGINAN- KEINGINAN agar tidak merasa takut. Well, pada hakekatnya manusia SULIT lepas dari keinginan. Tapi kita yang sadar, hendaknya berusaha sekuat tenaga mengendalikannya.

Mengapa begitu banyak manusia ditakdirkan terikat oleh keinginan? karena sejak lahir kita sudah dikudang-kudang supaya jadi wong gede, wong bagus, wong ayu. Diajarkan bersaing, agar mampu hidup layak menurut mata umum.

“That is why… aku lebih bercita-cita jadi gelandangan. At the lowest class, I’ve nothing to lose, I’ve nothing to fear..” Kata Jay saat itu.

============================================================================

Hm, gw pikir benar memang. Toh apapun keputusannya, jodoh atau tidak, kita TIDAK PERLU merasa takut. Dan jika kita sudah mampu untuk TIDAK MERASA TAKUT pasti kita memiliki semacam kepercayaan. Dengan begitu kita bisa ikhlas atau berpasrah diri apapun ketentuannya, karena kita nggak takut untuk kehilangan lagi. Well, kuncinya: hanya TIDAK merasa takut. Adalah diri kita sendiri sebagai makhluk, hanya sebatas makhluk, yang menciptakan ketakutan itu sendiri.

Rasa takut itu keterpurukan. Keterpurukan yang letaknya didasar paling bawah. Hina. Dina. Nista. Namun, sesuatu dikatakan naik jika sebelumnya ia berada dibawah. Dan titik terendah dibutuhkan setiap orang agar dia mampu melihat dirinya sendiri lalu memaksanya untuk naik menjadi sesuatu yang lebih tinggi (mulia). Kita musti ingat, bahwa pasang surut seseorang, naik turun kehidupan, terkadang bisa melenakan dan membuatnya berhenti mencari sesuatu yang sejatinya lebih baik.

Disitulah titik terendah diperlukan. Sebuah titik kehidupan yang akan memaksa seseorang untuk memperbaiki diri, dan tak akan pernah berhenti untuk memperbaikinya.

Hidup adalah soal KEBERANIAN menghadapi tanda tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar. Dan keberanian hanya bisa dimiliki oleh mereka yang PERNAH PUNYA rasa takut.

============================================================================

Kata bokap gw, menyelami kisah cinta itu memang njlimet. Karena cinta memang sesuatu hal yang buram dan menyiksa, sehingga tak semua lembarannya dapat dibaca dan dipahami. Tapi kita tak perlu kecil hati. Apa yang kurang jelas pada pembacaan pertama, akan mulai menerawang pada pembacaan kedua, dan pada pembacaan ketiga atau keempat kalinya lembaran buram itu akan mulai terpahami. Kuncinya (kata bokap): Niat dan telaten.

“Makanya jangan BERANI jatuh cinta kalo nggak siap disakiti..”lanjut bokap sabar setiap kali menemukan gw lagi ngerungkel dikamar sambil nangis-nangis.

You could be MAD as a mad dog with the way things went. You can swear and cursed fate. But when it comes to the end, you have to let go. But this is not my end, not yet. I still have to encourage and deliberated my own self. I still and do believe that there’s always room for improovement.

Bersyukurlah bagi mereka yang pernah dihinggapi rasa ragu. Keraguan adalah pertanda bahwa hati dan pikiran masih berpihak pada kita. Dan bagi orang-orang yang kuat imannya, keraguan adalah sebuah titik awal dari tumbuhnya sebuah keyakinan.

Well anyway, gw itu agak sedikit idealis (baca: ndhiablegh bin ngeyel), so gw yakin juga jika segala idealisme gw untuk mempertahankan semua cinta yang gw punya, butuh keyakinan nurani, kelapangan dada dan kebesaran hati.

Dan gw akan sekuat tenaga menjalani kisah gw dengan kepasrahan, sambil (maksa) berdoa terus kepada Tuhan, “Ya Allah, Engkau pasti tau kalo dia itu nyebelin, dan Engkau pasti tau juga kalo dia suka bikin aku nangis, tapi Ya Allah-ku yang maha mengabulkan doa, aku maunya dia aja yaaaa, jangan dituker-tuker lagi. Amin”.

Dan gw pun tertidur sambil tersenyum setelahnya.[]

============================================================================

Love you dul, as always..

..Memilih Dengan Hati..

Beberapa jam lalu, seorang kawan lama (sebut saja namanya Jatmiko) bertandang ke rumah gw. We spent almost 4 hours doing some crazy-talk things. Well, dalam waktu kurang dari 3 minggu lagi, Jatmiko bakalan married, dan sebagai laki-laki normal, he’s kind of… experienced a wedding jitter. Hahaha.. gw kira itu cuma teori doang, ternyata beneran ada ya?

Jatmiko bukannya nggak yakin sama pasangan dia, tapi lebih ke: nggak yakin sama diri dia sendiri. Banyak sekali concerns yang selama ini dia pendem dan oncomnya baru bisa dia keluarin pas—unfortunately—lagi curhat ke gw (derita gw dah.. hahaha).

Ujung-ujungnya malah gw yang diINTEROGASI dengan pertanyaan yang selalu sama (believe me, si Jatmiko adalah orang ke 564 yang nanya begitu ke gw).

Mungkin Jatmiko memang butuh jawaban, atau mungkin juga dia cuma butuh keyakinan mengapa seorang wanita akhirnya bisa begitu yakin untuk memutuskan who’s the damn lucky bastard yang bakal nemenin seumur hidup mereka. Hahaha.

”so then, kenapa sih lo milih si Murtez, Yum? I believe lo punya banyak pilihan. Why has to be him?”

Ditanya begitu gw cuma cengar-cengir. “Are you sure wanna know the truth?” dia mengangguk. even if jawaban gw itu sama sekali ngga reasonable menurut lo?” Dia mengangguk kembali.

Gw tergelak sesaat sebelum mencoba serius, “Jat, lo kenal gw dari dulu, gw keras dan sedikit pahit, tapi gw nggak macem-macem, gw ajeg, praktis dan pakem. Gw sangat asertif untuk urusan apapun, ya untuk ya dan nggak untuk nggak.”

Jatmiko menggeser posisi duduk sambil menautkan kedua alisnya, sepenuh hati berusaha ingin menyampaikan kepada gw dalam diam bahwa dia memang niat ingin mendengarkan semua alasan gw (as a woman) secara serius.

“Jat, jika seseorang truly loves someone, seseorang itu nggak perlu tau in exact way for being very sure tentang pilihan dia itu, well, as I did, I just feel it then decide it right away. Gw ngga langsung jatuh cinta pada pandangan pertama sama si Murtez, butuh beberapa kali untuk menyadari bahwa dia nggak biasa. Dia istimewa, setidaknya dimata gw begitu. Hahaha.”

Jatmiko yang gw ajak berhaha-hihi tampaknya betul-betul serius dan sama sekali nggak punya mood untuk bercanda. Gw mingkem, lantas melanjutkan penjelasan gw, “Si Murtez udah numbuhin cinta yang begitu sederhana di hati gw, dan satu hal yang perlu lo tau, gw ngga pernah seyakin ini dalam bersikap. Well, I’ve known that I like him for a while, but just now I decided to love him”. Gw akhiri kalimat tadi dengan wajah paling serius yang pernah gw bikin. Jatmiko nggak menunjukkan reaksi apapun.

“Lo jangan pernah bertanya kepada wanita kenapa dia memilih seorang laki-laki sebagai pasangan hidupnya.”

Again, Jatmiko nggak menunjukkan reaksi apapun.

“Jat, Kadang sebagai cewek memang gw punya alasan kongkrit kenapa semisal gw memilih bersama si A, tapi kadang gw juga bisa aja nggak punya satupun alasan yang dapat ditranslasikan secara verbal kenapa gw memilih si A. So, all the reasons behind simply just falling down from the sky, ‘bum..!!’, just like that. Just as simple as that. Kami sebagai wanita, hanya mengikuti naluri itu. The heart wants what the heart wants, buat gw just follow the nature, itu prinsipnya.” Gw lantas tersenyum maniiiiissss banget.

Jatmiko menghela nafas, “Tapi yum, kalo emang si wanita begitu serius dan PASTI mau sama gw, kok kayaknya ‘rasa’ yang gw rasain bertolak belakang ya? sekarang cewe gw malah makin cuek banget ama gw. Kayak ngga butuh gw, kaya ngeFLAT ama gw, padahal kita udah mau nikah dalam itungan hari deh ibaratnya..”

“Cuek ngeFLAT gimana?”, Kok tiba-tiba, bathin gw, pertanyaan si Jatmiko jadi nggak mutu dan mirip pertanyaan ababil (ABG Labil) gini.

Jatmiko mengendus kesal, “Dia udah nggak pernah telpon gw…” mendadak gw deg-degan.

Dia juga udah ngga pernah manggil pake honey bunny gitu lagi..” mendadak gw garuk-garuk kepala gw yang ngga gatel.

Dia jawab SMS gw seperlunya, dan itupun selalu gw yang SMS duluan..” mendadak gw cengir maksa.

Dia jadi kaya lempeeeeeng gitu dah ke gw..” mendadak gw nelen ludah.

Dia kayaknya ngga sayang lagi ama gw.. salah gw apa? Gw ngga ngerti deh, sebagai laki-laki, kurangnya gw apa? Masa baru mau nikah aja begini, gimana ntar pas udah nikah, bisa didiemin kali gw sepanjang hari, dikacangin, kaga dianggep, dan ngga disayang-sayang lagi..” mendadak gw melongo sampe bener-bener mangap ngap ngap.

Ayo dah, coba lo sebagai wanita explain ke gw, secara lo SAMA tuh (pake pandangan sinis) kaya cewe gw, kebangetan CUEK anaknya..” Jatmiko merengut sambil menjejalkan puntung rokoknya ke asbak.

Gw merasa si Jatmiko suddenly mirip ABG belasan taun yang tiba-tiba aja takut banget diputusin pacarnya. Gw speechless.

Jat, please deh, cewek lo itu udah memutuskan untuk married ama lo. Undangan juga udah dicetak. Ya pasti deh dia cintanya ama lo.. Ngga usah mikir macem-macem…” Gw ketawa-ketawa, Jatmiko masih mingkem.

Mungkin sikap dia yang cuek tadi, lebih karena yang: ya udahlaaah, udah sama-sama tau gituh, kalo kalian udah sama-sama cinta, jadi ngga perlu kaya ABG juga. Si Murtez juga gitu kok, sekarang nih ya, doi lebih judes dan nggak ada manis-manisnya kaya dulu deh ama gw, hahaha, gw pun nggak protes lagi kalo dia begitu kok.. lagian, mereka begitu bukan karena nggak cinta.. Justru bisa jadi karena udah merasa tenang..” Gw tepuk-tepuk pundak si Jatmiko.

Iye..! tapi kan si Murtez belum memutuskan mau nikah ama lo, lha ini gw? Tinggal segini nihhhhh….” Jatmiko menjentikkan kelingkingnya.

Hm, ada benernya juga sih gw pikir. Lalu gw beri usul asal-asalan demi menutup conversation kami, “Lo adain ad-hoc meeting sama cewek lo dong, Jat.. bilang tentang apa yang merisaukan hati lo…”

Jatmiko cuma cengar-cengir.

Well, pada dasarnya pernikahan itu adalah bentuk lain dari dialog. Kalo kata Bang Isro si anak betawi, Laki-laki akan memberikan PROPOSAL tentang rancangan dan bentuk pernikahan yang akan dibangun bersama. Dan isi dari proposal itu nggak fix, masih banyak hal-hal didalamnya yang bisa di-LOBBY. Jadi wanita berHAK untuk ikut merevisi proposal itu.

Kan mau bangun Benteng Takeshi bareng-bareng, hahaha. Jadi semua memang harus dibicarakan bersama, bukan?

===========================================================================================

Sebagian kubu berpendapat, “gw tetap dengan gaya kebathinan gw soal rasa, yang jelas kita tau dari dalam hati ini, kalo kita saling cinta tanpa harus berkata-kata”. Sedangkan kubu yang lain bilang, “Buat gw, cinta butuh pengungkapan, cinta butuh ruang untuk bisa hidup dan berkembang”. Memang pertikaian semacam ini yang suka bikin miskom.

Gw jadi inget juga, Defi—temen gw, waktu lagi patah hati, pernah bilang bahwasanya makhluk cowok itu cuma BAIK sama cewek pas:

  1. Sebelum jadian,
  2. Baru abis jadian, sama
  3. Setelah jadian alias pas BUBARAN.

Hahaha, Interesting concept. Bisa benar, bisa juga nggak.

However, seberapapun bertolak belakang konsep-konsep tadi, saat itu gw cuma bisa bilang ke Jatmiko untuk mbalikin itu semua ke hati. “Tanya lagi ke dalam hati lo, Jat. Libatkan Tuhan didalamnya..

Dan Jatmikopun pulang dengan berseri-seri, karena dia mulai belajar untuk bisa lebih mempercayai hatinya, bukan pikiran buruknya. Dan gwpun bisa kembali ke kamar gw dengan tenang.

===========================================================================================

Hati adalah pusat kehendak yang bisa bikin manusia tertawa dan menangis, sedih dan gembira, suka ria atau berputus asa, merasa tenang ataupun merasa gundah, merasa baik-baik saja ataupun merasa hampa.

Namun kadang, pikiran akan membantu hati. Pikiran akan ikut menolongnya untuk mendapatkan kejernihan dan ketetapan itu, tapi pikiran tidak bisa menerangkan apa-apa, karena pikiran mengabdi kepada hati, dan hati selalu akan kembali bertanya kepada Tuhannya.

Dihadapan Tuhan, pikiran adalah kegelapan dan kebodohan. Jika pikiran ingin mencapai Tuhannya, ia harus menyesuaikan dan mensucikan diri dengan hukum dimensi hati. Jika tidak, pikiran akan menawarkan kerusakan, keterjebakan dan bumerang.

Jadi, hanya hati yang bisa berkiblat kepada Tuhan untuk memperoleh kejernihan dan ketepatan tentang apa yang kita inginkan dan jalan mana yang harus kita ambil.

Jadi yaaa… percaya aja apa kata Hati. Toh kalopun semisal (amit-amitnya) nggak jodoh, Gusti Allah mboten sare kok. Hehehe. Pasti nanti dicarikan yang lebih baik.

===========================================================================================

Gw nggak bisa tidur jadinya deh. Disaat yang bersamaan gw memutuskan untuk menyeduh segelas cappuccino untuk mengendorkan urat syaraf.

“I know a falling star can’t fall foreveeeerrrr.. but let’s never stop falling in looooooove..” hasrat karokean gw nggak tertahankan lagi. Emak gw sampe bangun dan teriak “hoooyyyy udah mau subuh nih, tidur nduut..!!”. Gw cuma cengengesan, plus joget-joget tanpa saksi.

Gw tarik nafas panjang, cappuccino-nya udah jadi. Aroma cappuccino dan urban symphonic music-nya Pink Martini memenuhi butiran oksigen di kamar gw. Hm, kopi dan samba-tango, berasa nonton Brazilian street carnival parade aja gw.

Sekilas gw lirik foto seorang lelaki di ponsel gw, seems he’s getting more cute as days gone by. Oh my God, I should control myself, haha.

Á votre santé, mon chere…”, gw angkat sherry glass of wine gw tinggi-tinggi (padahal cuma cangkir isi kopi) sambil tersenyum penuh cinta didepan foto tadi. Nggak lupa gw kirimkan SMS penutup hari ini untuk dia, “Sayang, maafin aku ya, kalo aku terlalu cuek..”. Gw kembali cengengesan.

Ah, ternyata, cinta pada umur berapa pun akan meretaskan sebuah keindahan non-verbal yang meletup dalam hati, yang mampu membuncahkan kebahagiaan yang kadang nggak bisa kita mengerti.[]

===========================================================================================

Je t’aime comme toujours, dul..

..dan ucapan itu..

Pada siang yang agak mendung, gw memutuskan untuk membuat urutan lalu mengkatalogkan CD dan DVD gw yang sumpah berantakannya nggak kalah semrawut sama kasus Bank Century.

Foto bergabung dengan foto, musik bergabung dengan musik, data dengan data, dst. Tulisan-tulisan label diatas kepingan CD membawa pikiran gw kembali ke masa lalu, seperti halnya seorang kawan lama pernah berkata: membacanya saja seperti melihat kembali isi hati.

Ada CD yang berisi foto-foto bersama teman kuliah, bersama pacar semasa kuliah (yang seharusnya gw buang atau bakar lalu abunya gw buang di laut selatan haha!), lalu ada lagu-lagu masa dulu, project-project yang gw lakukan semasa kuliah demi menambah uang saku (yang biasanya kadang ditipu (tanpa bayaran), atau kalaupun ada bayaran, uangnya akan habis lagi untuk beli buku bekas di Palasari atau Pasar Kalapa Bandung).

Ada satu CD yang menarik perhatian gw, tulisannya:Studi Kinerja Penggabungan Kontrol Daya dan Beamforming adaptif Buta Menggunakan Antena adaptif Sirkular pada DS-CDMA. Hufff… gw menarik nafas, bisa-bisanya gw milih judul kayak gitu dulu. Gw pikir, tadinya, gw nggak akan bisa menyelesaikan Tugas Akhir ini. Susah banget. Haha! Sekarang gw bisa tersenyum puas sambil mengangkat CD itu tinggi-tinggi, I did it!! Yes I did, and I am the winner..!! (hahaha dasar kampungan :p)

Gw baca lagi kilasan jurnalnya (dulu keren juga gw, masih muda bisa bikin beginian hahaha). Trus gw lanjut baca daftar isinya. Baca sisipan-sisipan tambahannya (Gila, gw puitis banget :p ), nggak heran dulu Pak Iwan Iwut, dosen penguji gw bilang: “Ini TA pertama yang memadukan bahasa teknik dengan bahasa sastra” (Padahal biasa aja sih menurut gw :p ahahahahaha!).

Ada satu bagian yang dulu gw sussssaaaah banget bikinnya, karena gw takut orang-orang yang gw sayang kelewatan gw sebut. Dan inilah bagian itu, gw perlihatkan, tanpa sensor. Just enjoy kejayusan gw jaman dulu! hahaha…

==========================================================

UCAPAN TERIMAKASIH

Y mis suenos no tienen fronteras [..Idealisme saya tidak ada batasnya..]

-Che Guavara-

Dalam mengarungi hidup, kita memang tidak pernah tahu dan tidak pernah bisa memprediksi hal-hal yang akan terjadi selanjutnya, dan buruknya lagi things always happen when we least expected, right?. Sesungguhnya pahit dan manis hidup hanyalah sebait perjalanan yang harus kita tempuh. Dan dari perjalanan itupun kita harus mengerti, bahwa untuk membuat hidup lebih berarti, kita harus mengikuti kemana hati membawa kita pergi.

Karenanya penulis ingin berterimakasih kepada semua yang telah memberi warna kepada hidup penulis. Semua yang telah memberi ruang tawa pada jiwa, juga semua yang membawa sedih dalam tangis. Semoga kebaikan dan kekhilafan yang telah terima dapat membuat hidup penulis menjadi bebas tanpa batas. Dan inilah, hanya terima kasih yang dapat penulis berikan

1.Kepada cahaya di atas cahayaku, Allah SWT serta berderet malaikat yang tiada henti memujiNya. Juga kepada kekasih Allah, Rasulullah SAW, yang memberikan kedamaian Islam kedalam jiwaku. Sang guru, Khidir, yang entah kapan bisa kutemui. Ahlul ba’it, Siti Fatimah dan Sayyidina Ali, Waliullah, Sulthanul Aulia Syeikh Abd. Qadir Jailani, dan para safa, Al-Ghazali, Jallaluddin Rumi, Mansyur al-Hallaj, Rabiah al-adawiyah, Raden Mas Said dan Siti Jenar atas segala getaran kecintaan bathin pada yang maha tunggal, Allah SWT

2.“Mahaguru”, M Gatot Whisnujati, terima kasih atas semua cinta kasih dan segala ketahanan bathin papa atas segala sifat sok tau dan ke-ngeyelanku.

3.Best friend ever, Iriani, terimakasih buat do’a dan airmata mama, and still, no one can dine as good as yours..

4.Pembimbing paling keren sedunia, Heroe Wijanto, Ir. MTdan Koredianto Usman, ST. MScatas segala bimbingannya selama pengerjaan Tugas Akhir.

5.Pembimbing III (Cabutan), Ratma Wahyudi, ST. MT, atas segala support, semangat dan kesabaran hati menghadapi kepanikanku gara-gara terlalu banyak yang di-Run.

6.Old guyz, Kris Sujatmoko, ST. MT, Klentheng Hawani, ST, Stevanus Ary, ST (Thank’s a bunch bro!), Denny Bambang (we made it!) dan Buddy Sanjaya, ST (keriting) atas segala info, semangat dan tawa yang membawaku sampai kepada hari ini.

7.Para penguji, Mr. Hadi Suwastio, PHd., Mr. Bambang Setya, MT., Mr. Iwan Iwut, MT., atas pertanyaan-pertanyaan keren-nya (Maaf soal terjadinya insiden kumis” spidol dimuka saya itu pak, sangking nervousnya)

8.Pejuang Garis Depan, Pak Rudy ‘n Ibu Nani (Hehehe hidup deadline!!!)

9.Mad Girl, Ratieh (sometimes when your friends betray you, the only people you can trust are strangers)

10.Penonton sidang, Sutaku (Je me suis trompé), Een, Ratih, O’on (kok gak bilang dimukaku ada kumis?), ‘n Double Anto, atas supportnya

11.La Belle, Mba otz, dan Noé, atas segala ketikan script MATLAB yang segambreng itu plus wejangan hidupnya

12.Sista’, Lis (akhirnya mbak lulus!), Jesse, Edha, Oma, Nung, Fa, Nyak (I miss you), cha (congrats to the new boy in town, ha ha!), Titi (we all love Fauzi Ba’adillah), dan Eko (makan-makan mulu).

13.My Girlfriend, Wiwit Kusuma, Pray to us for becoming stronger women

14.Thebawels’, Yudha, Atas Rancangan kebaya wisudanya (Isimply love that..)

15.Tetangga kost, Rizky (Hanggono weekk..), Tian, ‘n A’an (makasih kuehnya)

16.Anak-anak Batman, Zuber (you’re my best man ever!), Wayan grandong (darling, aku merindukanmu wekekek), Faza (baiknya dirimu Faz!), Heri (mmm.. ketauan ya?), Awal (cute), Yogo, ‘n Udin

17.Anak-anak ‘Warnetku’, Heru, Hendrik feat Romadhon (segeralah cuci otak mas!), Dedi (I hate your red tiger!), Jack (Kembalikan Flashdisk-ku), Bagusku(Pacar gelap), mas Wiwiedku(Pacar Terang), ‘n beloved Tanjung, atas segala cinta untukku.

18.Team Hore, Hendro (Temen Naik Gunung), Bimo, Ferdy, Fahry (sempatkah maaf itu kau beri), Qentang (kata-kata itu sungguh berarti buatku), Mas Lilik, JaZzVier (makasih ya udah nemenin kemana-mana), Mas Tirta, Mas Anwar (telpon darimu sungguh berarti), Mas Ody (for the roses), Rama Hari Yudha (I kept my promise, didn’t I?), Baba (your present is still linger), Yoko, TB, for showing how beautiful world to see

19.Team Katro, Oggy, Tasik Marusik, Q-run, Anto, Dede Fajar, Rhino, Achonk (tercela), Ulan, dan Ana atas canda tawanya

20.My Band, “Ophoudent”, Andre, Ary, Bowo, Ardi, Anton, for the punk.

21.Anak-anak IRSIP, Ibie ‘Soediro’ (I love you), Mas dhito (for the beautiful eyes), Isam (ndut), ijaNk (playboy kondang ibu pertiwi), Mas Kiki ganteng, Didit, Pedro (My Justin), Widi, Oki, Puti (miss our cleaver conversation), Sari n Angger (temen imel-imelan ga jelas), Tika, Salsa, Cireng, Adit, dll, atas waktu senang-senang dan begadangnya

22.The fantastic Four, Imi, Anti, Dhita, Ryan, Atas keributan and keribetannya

23.Anak-anak BPI Pamulang, Dian, Bayu, Mutia, Chika, atas crazy stuff-nya

24.Anak-anak shabby, Faira, Tess, Lana, Omar, Genta, atas kegilaan masa muda kami (Insyaflah wahai manusia..)

25.Para feminis, Windy, Fetty ‘Ultimus’, Gazelle(TIM), Kenashia dan Icha(OZ FM), we don’t have to be drop-dead beautiful to be considered beautiful

26.My Guitar, Kalyani, a sun lent to us too briefly. Hey!! Don’t think! Just feel..

27.My Cat, Schützchrut (baca: kucrut), Sorry about the “nightmare” haircut

28.Future Husband, Orlando Bloom, Anang Hermansyah, Justin timberlake, Joaquin Phoenix, Hugh Jackman, Jude Law, Tommy Tjokro, Jamie Aditya, Al Pacino, Andi Garcia, Kirk Hammet, Sonny Sandoval, Munky, Eno Netral, Mas Piyu, Ridho Slank, for being gorgeous men alive!

29.The voice, Janet Saidel, Peppi Kamadhatu, George Michael (‘Desafinado’), Michael bublé and Metallica for the songs

30.Dan kepada pihak lain yang tidak dapat disebutkan (terutama Cahyono n Eté, ksiaaaan deh loe).[]

..At Rainy Dawn..
Januari 2006

==========================================================

Manusia hidup dari hatinya. Manusia bertempat tinggal dihatinya. Hati adalah sebuah perjalanan panjang. Manusia menyusurinya, menuju kepuasannya, kesejahteraannya, kebahagiannya, & Tuhannya.

Gw aduk es krim yoghurt digenggaman gw perlahan. Sahabat gw ini masih memandangi gw dengan tatapan tajam, sekaligus hampa dan menghiba.

“Gw dulu.. jadian ama Astrid itu tanpa cinta, rum. Tapi dalam perjalanan kebersamaan gw and dia, Astrid mampu bikin gw jatuh cinta..”

Gw membetulkan letak posisi duduk gw. Suhu badan gw mulai menghangat, rasa sesak itu datang, pening dikepala mulai menghadang. Well, gw memang nggak seharusnya bepergian dalam kondisi badan yang masih butuh bed rest kayak sekarang.

“Gw jatuh cinta sama dia di saat yang nggak tepat, tapi it just happen like that!!”

Hendry menjentikkan jemarinya.

“Gw merasa dicintai lewat cara yang bagi gw aneh. Karena baru kali ini gw merasa ‘ni cewek justru ngebiarin gw jadi gw, nggak modal-modolin gw, walaupun resikonya gw bakal BEDA dan nggak sesuai sama apa yang dia mau..”

Hendry mulai resah dan mencari-cari batang rokok baru untuk dibakar.

“Lo tau ngga, rum! gw merasa dia menghargai gw bahkan untuk hal-hal kecil yang ngga penting buat gw! Dia bikinin gw brownies cum (dari cumi (T_T)” ) cuma gara-gara gw dateng sebentar ke rumah dia setelah sekian lama gw kaga ngapelin dia, padahal asal lo tau, gw kaga sengaja kesono!! gw itu baru balik ketemu wulan! (mantannya Hendry )”.

Spontan gw keselek. Batuk-batuk hebat karena merasa pernah memiliki kisah serupa. Dan entah, secara spontan gw merasa Hendry mempermainkan dan menyindir gw secara sarkastik. Tapi setelah gw amati roman wajahnya, gw batalkan tuduhan kejam gw itu.

Melihat gw batuk, Hendry setengah berdiri. Berniat menolong. Gw mengibas-ibaskan tangan gw, “Go on, gw ngga papa kok.”

“Gw kenapa gini amat ya, rum. Selama ini gw udah nelantarin Astrid. Setelah apa yang gw perbuat ke dia, semua kecuekan gw ke dia, dia selalu sabar ngadepin gw. Gw masih inget, lo bilang ke gw, Astrid itu bintang selatan gw, kalo kaga ada dia, hidup gw runyem! Inget kan lo?”.

Gw menelan donat rasa tiramisu ini dengan pahit. Merasa dejavu kembali. Seseorang yang lain sepertinya pernah mengatakan hal yang sama (well, technically berbeda, tapi sama gitu deh) ke gw.

Hendry mengacak-acak rambutnya, “Selama ini gw ngga sadar, kalo gw ngga sekedar nyaman ama Astrid, tapi gw juga cinta sama Astrid, rum!”. Dihisapnya kembali rokok yang tadi di-free-pointing ke muka gw itu dalam-dalam.

Kali ini gw masih nggak tau apa maksut Hendry cerita ini semua ke gw. Kayaknya ada yang lebih penting yang mau dia sampaikan ke gw. Gosh!! Hendry terlalu bertele-tele. Gw butuh air putih sekarang. Tenggorokan ini ngga bisa diajak kompromi. Kalo nggak, mual ini bisa jadi muntah. Ugh! Dasar flu keparat.

Gw pandangi kembali Hendry yang duduk belingsatan diatas sofa café yang beludrunya selembut sutera Persia. Hendry terlalu resah. Terlalu gelisah hanya untuk curhat hal ngga penting kaya gini. Hm, gw curiga. Gw biarkan alunan Dienda milik Sting terburai halus di ruangan ini. Keterpakuan diantara kami terlalu lama, sampai akhirnya Hendry menyampaikan berita itu.

“Rum, Astrid sakit rum.. Gw.. gw bingung… Astrid.. kena Serviks!”

Kalimat terakhir itu bikin gw berhenti bernafas. “Masya Allah! Jangan bencanda, Hen..!!”. Hendry hanya memandangi gw dengan genangan air mata yang berloncatan keluar. Belum pernah seumur hidup gw, gw liat cowok kampret ini look so despret.

“Gw ngga siap kehilangan Astrid, rum!!”. Genggaman tangan Hendry terasa begitu dingin ditangan gw. Yang gw pandangi hanya terisak perlahan.

===========================================================================================

Dulu gw pernah bilang sama Hendry untuk berhenti me-logika-kan cinta. Hendry baru pacaran sama cewek (sebener-bener cewek) sekali ini dalam hidupnya. Karena setau gw, pacar Hendry selama 24 tahun belakangan adalah motor 2 tak-nya yang maha berisik itu.

Gw dulu sering sebel sama Hendry, karena dia nggak pernah nunjukin sayang dia ke Astrid. Well, gw, sebagai wanita yang hampir setengah hidupnya telah dijejali berbagai kisah romantisme cinta baik di film, buku, ataupun lagu, heran aja.. Kok bisa sih Hendry menumbuhkan perasaan nyaman tanpa mampu pula untuk menumbuhkan rasa cinta ke Astrid? Sumpah gw ngga ngerti.

Gosh!! this girl is so damn falling in love with Hendry. And my fucking stupid Jerk what-so-ever-called-an-asshole friend, Hendry, was so naïve to see that he should be grateful to meet and have this wonderful gorgeous (but lost) angel.

Nah! Sekarang bagi hendry, rasa nyaman itu sudah berubah menjadi rasa cinta. Paling nggak, dia berani mengatakan itu ke gw.

Ah cinta, rasa cinta. Gw juga ngga tau rasanya kaya apa.

===========================================================================================

Cinta mungkin seperti dialog Meryl Streep dalam salah satu adegan film Prime “Love is work“. Perlu sebuah usaha untuk mencintai. Perlu sebuah usaha untuk merasa jatuh cinta. Dan perlu sebuah usaha untuk merasa dicintai.

Tapi menurut gw, yang paling penting adalah: perlu sebuah usaha untuk bisa menghargai. So, apa sih cinta? Lo bisa mengartikan cinta dengan apa aja, tapi satu yang harus lo sadari, cinta bisa datang dari hal yang sangat sederhana.

Sewaktu dulu Astrid cerita ke gw tentang betapa cintanya dia ke Hendry, gw orang yang paling pertama ngeludah-ludahin itu cinta. Bagi gw cinta itu pada akhirnya akan menyakitkan buat Astrid, gak worthed! Najis tralala! Kacrut sumicrut!!

Well, sebenernya saat itu gw nggak tega sama Astrid yang sabar banget aja. Gw bete, lantas kaga terima kalo Astrid diperlakukan gitu oleh Hendry, walaupun gw sebenernya kudu belain Hendry, karena Hendry temen gw.

Belakangan, baru deh gw merasakan, bagaimana Astrid mampu menjalin perbedaan dengan begitu Indah dan mau menerima sifat-sifat Hendry yang Naudzubillahimindzalik itu demi sebaris kata CINTA (yang tadinya gw ludahin :p).

Kebetulan banget malamnya gw sempet ber-chat ria dengan Astrid.

“Yum, bagi gw, cinta adalah when a man look at you as a person. Not a partner, not a wife, not a mother of his child, not even a woman, but as a person.”

“hm, flat gitu ya, com (dari oncom)?”

“Gini yum, kalau kita melihat seseorang sebagai “seseorang“, itu berarti kita akan memberikan penghargaan terhadap segala perbedaan yang ada diantara diri kita dan dirinya.”

“Gw kaga ngerti, com..”

“Hm gini, coba deh, gw rasa lo bakal asik-asik aja kan kalo lo begaul ama temen lo. Selama dia anaknya asik, lo pasti nggak pernah sekalipun kepikiran untuk mikirin hal-hal yang yang berbeda dari kalian, semisal Ras, atau suku, status, gender. Karena lo memandang dia sebagai manusia.”

“ah gila lu!”

Nah!! makanya, kalo lo melihat seseorang sebagai human or as a person,lo bakal lebih mudah menerima dia apa adanya. Lo akan lebih enteng untuk mentoleransi semua perbedaan itu secara lebih baik dan lebih fair. Percaya deh. Tapi coba kalo lo liat ulang lagi, semisal lo melihat seseorang itu sebagai pacar lo, pasti lo akan menuntut sesuatu terhadap dia, disadari ataupun tidak. Dan pasti kalo dia punya salah, lo akan dengan gampang menghakimi sambil menuntut nana nini yang lain, ya ngga..??”

“iya sih…. Bener lu com..”

“Jiah, dasar gebleg! Kan elo dulu yang ceramahin gw abis-abisan tentang apa tuh, itu loh yang dibilang si filsuf amerika itu, halah gw lupa!”

“yang mana? Sam Keen?”

“Nah, kaga tau dah gw yang mana, pokoknya yang dia bilang: you come to love not by finding a PERFECT person. But by learning to see an IMPERFECT PERSON perfectly. Ya kan? Masa jadi gw yang ceramahin lo balik? Hahaha!”

*gw ngerunyem, tekanan bathin*

“Yum, berani mencintai seseorang berarti lo harus berani menerima kekurangan dia, sekaligus berusaha melengkapi dia. Sebagai manusia yang tidak sempurna, ada lubang kekosongan dan kelemahan yang mengisi jiwa-jiwa kita, dan ketika kita mencintai, justru kita telah menemukan diri kita masing-masing sempurna adanya.”

“Lah, emang menurut lo, Hendry sudah merasa sempurna dengan adanya elo?”

Astrid terdiam. Gw merasa bersalah. Anjrit. Layar chat kosong, dan nggak ada tanda-tanda Astrid ngetik. Gw raih ponsel gw, gw nggak mau salah ngomong, gw harus nelpon Astrid.

“Yah itu lah yum, mungkin Hendry masih belum bisa percaya dan menerima kalo ada orang yang sepenuh hati mencintai dia”

“Heu? Maksut lo, com?”. Gw letakkan ponsel gw, dan kembali fokus ke keyboard dan LCD didepan gw.

“Kadang seseorang merasa mampu untuk mencintai, tapi nggak siap untuk dicintai. Gw rasa, itu yang Hendry rasain sekarang, yum”.

Gw cuma bengong. Tiba-tiba gw jadi kangen seseorang. Kangen banget. Kayak sehati dan sejiwa, tau-tau yang gw kangenin nelpon gw! Haha! What a world! Gw nyengir, berasa kena serangan jantung gw! :p

===========================================================================================

Hm, gw sangat percaya, jika beberapa orang memang ditakdirkan memiliki “tragic love story”. Tapi justru itu, barangkali Tuhan punya rencana indah dibalik semua pergulatan-pergulatan bathin yang berat itu.

Gw nggak tau, apakah Hendry betul-betul jatuh cinta, atau hanya merasa kehilangan lantas kasihan karena ngeliat kondisi Astrid yang sakit. Yang pasti rasa itu tetap sama. Menyakitkan. Membuat sesak. Seperti yang pernah dibilang pacar gw tersayang, bahwa penyesalan itu selalu ada dibelakang.

But nobody really knows. Semua.. rasanya terbalik sekarang, gw merasa Hendry kena kutuk, karena nggak bisa liat kalo Astrid itu malaikat yang dikirim Tuhan buat dia.

Hm, malam ini gw belajar lagi dari Astrid, bahwa mencintai itu bukan hal yang mudah. Tapi karena itu bukan hal mudah, kita nggak boleh begitu aja menyerah. Cinta butuh dipelihara. Ternyata dibalik sepak terjangnya yang serba mengejutkan, cinta tetap butuh mekanisme agar mampu bertahan.

Mempertahankan sebisa mungkin apa-apa yang elo yakini memang baik,ditambah dengan keterlibatan Tuhan didalamnya (dalam Islam, we called it, Istikharah) akan membuat perjuangan itu lebih punya makna. Lagipula apa salahnya? Wajib dicoba. (^^)v

Only one thing can make a soul complete and that thing is love. Hm, I wonder, how wrong can it be?[]

===========================================================================================

The more you suffer, the more you love, and danger will only increase your love, further more, it will sharpen it, it will give it a spice.

Gw memandangi laki-laki sendu disebelah gw. Kebisuan diantara kami cukup lama terjalin. Lebih terasakan suasana prihatin, lebih kepada percakapan bathin. Dia sibuk mengusap-usap wajahnya dengan gemas. Rasa cemas yang sedari tadi merantas dipikiran gw, nggak gw perlihatkan. Gw berusaha untuk tetap tenang. Karena, kalau boleh jujur, nggak biasanya aja, gw merasakan aura dia yang sekelam ini.

“Kamu yang sabar ya, sayang?”. Laki-laki ini membuka percakapan. Mencoba lebih tegar untuk menguatkan gw. Gw cuma tersenyum. Gw pandangi dirinya dengan perasaan penuh sesak. Antara bingung, senang, haru, ragu, entahlah.. gw nggak sepasti itu untuk tau.

“Ya, namanya kan juga cobaan..” Gw tersenyum, berusaha menahan semua simpul getar dibalik senyuman gw itu. Menahan supaya air mata ini nggak berloncatan dan berhamburan keluar.

===========================================================================================

Kasih sayang adalah juga benda, sekalipun mujarab dan abstrak, setiap benda harus tunduk kepada manusia, terserah pada manusia itu bagaimana hendak menggunakannya. Begitu juga dengan kasih sayang yang dimiliki lelaki gw ini. Terserah pada dia bagaimana ingin menggunakannya. Dan terserah juga pada gw untuk menginterpretasikannya.

Well, so far, semua orang menganggap ada yang salah dengan kami dan segala komitmen yang telah kami tetapkan dan kami jalin selama ini—meminjam bahasa mbah gw, hubungan ini merupakan hubungan yang: mrojol selaning garu (diluar dari kebiasaan). Walaupun sebenarnya, rasa bathin yg bernama cinta tak bisa dinilai dengan cara kerja pikiran dan atau perhitungan.

Yah, itulah kenormalan hidup manusia beserta segala tuntutan yang makin membebani, juga makin memboboti. Makin diterima satu tuntutan, makin berduyun yang lain datang.

Gosh! why do people like to complaints? Hm, maybe because it’s easy to complaint!!

Gw selalu berpikir, tidakkah mereka bisa bersikap wajar dan biasa-biasa saja? Mereka selalu saja bertengkar dan berdebat ramai tentang gw dalam bahasa yang bagi gw sama asingnya dengan bahasa nasib manusia.

Ataukah semua ini hanya sebuah alibi untuk memaafkan kelemahan diri, keterbatasan, dan kekurangan mereka dalam melakukan sesuatu yang selama ini tidak mampu mereka wujudkan namun secara mengagetkan mampu gw lakukan dan wujudkan bersama lelaki gw?

Ah entah, gw nggak mengerti.

===========================================================================================

“kemaren gw liat lo lagi berdua sama cowo lo, trus gw cemburu, Aneh ya? Hm.. tapi kok dia masih bisa nana nini ke cewek lain sih? Gw pengen banget bilang ke dia, minta tolong untuk ngejaga and bikin lo bahagia, yum”.

Gw cuma terdiam. Rahang gw terkatup, enggan berkata dan menjelaskan apa-apa.

—————————————————-

“Berangkat ngga lo ke kondangan?”

“Iyak, berangkat kok gw”

“Karo sopo?”

“Sama tetangga gw”

“Mas-nya kmana? Bareng Angie ya? Hahaha”

“Iya, kok lo tau?”

“Ngambek..”

Gw cuma terdiam, memandangi cursor di LCD gw yang berkedap-kedip centil.

—————————————————-

“Yum, cowok lo itu harus bisa jaga perasaan lo dong. Gimanapun kalian itu berkomitmen, ada koridor-koridor kesepakatan yang harus dipatuhi bersama. Nggak bisa bebas terus. Terlalu bebas bisa anarkis tauk!!”.

Gw cuma terdiam. Sedan ungu matic berplat N itu terus melaju di sekitaran jalan Thamrin yang lumayan padat merayap.

—————————————————-

“Yah itu resiko lo lah, lo kan udah milih dia..”

Gw cuma terdiam. Berharap punya parasut, sehingga bisa kabur dan terjun bebas dari sini.

—————————————————-

Parkiran Patra – Simprug. Saat sebuah mobil Jeep mini melintasi gw dan lelaki gw yang berjalan cepat didepan gw: “MASIH BEGITU AJA HIDUP LO?!?! HAHA”.

Gw cuma menghela nafas panjang lalu terdiam.

—————————————————-

Lapangan Blok S, jumat siang: “Yakin dia ngga maen-maen ama elo? Dia ganteng deh kayanya, dan elonya masih gitu-gitu aje. Ati-ati kerebut orang, cong..”

Gw cuma terdiam. Es blewah yang wangi dan manis terasa totally plain di genggaman gw.

===========================================================================================

Gw buka aplikasi notepad dikomputer gw. Menghela nafas sebentar, lalu menyentuhkan ke sepuluh jemari gw diatas keypad yang berwarna kelam.

—————————————————-

Sayangku,

Kebenaran kadang memang sukar dipahami dan hanya bisa kita rasakan. Seperti halnya rasa yang tanpa kita sadari bertumbuh, ketika kita mencoba meraba dan tergagap dalam usaha mendefinisikan keburaman cinta yang bersemayam didalam dada kita dahulu.

Awalnya aku meragu. Ternyata pria sesederhana kamulah yang mampu meruntuhkan tembok itu. Sehingga pada akhirnya aku menyerah, dan menerima bahwa mencintai pada akhirnya bukanlah menjadi satu pilihan melainkan menjadi sebuah keputusan.

Tapi, semua nggak berjalan sebagaimana yang aku duga. Walaupun kita satu, kita masih bicara dalam bahasa dan berada pada ruang dimensi yang berbeda. Tapi aku bahagia kok, paling tidak, seperti halnya Columbus, aku bisa melakukan ekspedisi baru untuk menjelajah duniamu.

Untuk memulainya, aku buang semua standar bahasa dan dimensi duniaku, dan aku rela melakukannya demi kamu sehingga kamu tidak perlu susah payah datang untuk menjelajahi rumitnya duniaku.

Untuk memulainya, aku juga membuang semua impianku tentang model pria-pria yang selalu kuinginkan selama ini.

Imajinasi tentang pria penuh kesabaran ala John Rolfe-nya Pocahontas,

Imajinasi pria penuh mimpi seperti Parang Jati di novel Bilangan Fu-nya Ayu Utami,

Imajinasi pria sekeren John Frusciante-nya Red Hot Chili Peppers saat bermelody dengan gitar patah di lagu Scar Tissue,

Imajinasi pria dengan keberanian bak Anakin Skywalker yang akhirnya jadi penjahat gara-gara cinta yang begitu besar ke Padme Amidala.

Imajinasi pria sederhana tapi puitis seperti Mas piyu padi yang merontokkan teoriku tentang pentingnya kegantengan seorang cowok bagi seorang gadis.

Tapi sayangku, semakin menjelajah, aku yang sensitif dan mellow ini semakin merasa terluka karena aku merasa berpeluang lemah untuk lolos kualifikasi standar imajinasimu.

Penderitaan itu datang dan se-enaknya merambat nyeri disela dada kiriku. Awalnya aku hanya bisa menangis pilu. Tapi saat itu kau bilang, kau membenci tangis. Aku terdiam, mungkin aku harus belajar untuk tidak menangisi perbedaan kita, walaupun sebenarnya aku takut hatiku akan membatu tanpa air mata yang melegakan dadaku.

Sayangku, penderitaan disini adalah suatu ragangan, tulang belulang kehidupan. Memang aku tidak bisa merasakannya bila sedari awal aku memutuskan untuk berhenti menjelajahi duniamu. Tapi aku ingin kamu tau, aku begini karena besarnya rasa cintaku untuk kamu, sayang.

Walaupun, akhirnya aku akan menderita lagi karena aku nggak bisa berbuat sesuatu untuk memenuhi mimpi-mimpimu itu. Tapi, sekali lagi, atas nama cinta, aku mengabaikannya demi kamu. Aku masih merasa bisa untuk terus menggandeng tanganmu dan melalui semua badai itu bersama kamu.

Mengasihi dan dikasihi, dikasihi dan mengasihi, itu semua adalah bentuk pergulatan. Untuk membetulkan kasih sayangpun dibutuhkan pergulatan, keberanian dan ketepatan bertindak. Akupun mencoba untuk terus maju, tapi aku kecewa, karena kamu sepertinya nggak berbuat apapun untuk perubahan itu. Tapi biarlah.. mungkin memang harus aku yang melakukan sesuatu untukmu, sayang.

Aku masih ingat, aku tersenyum seperti bocah belasan tahun saat kamu bilang: “aku tau kok kalo kamu sayang sama aku, tapi kamu tau nggak kalo aku sayang banget sama kamu?”.

Walaupun sebenarnya ada yang kurang bagiku, karena kamu tidak mampu melakukannya sambil menatap dan menelusuri gelap bola mataku.

Aku juga ingat, aku merasakan sakit didadaku karena terlalu bahagia setiap kamu menggengam tanganku dengan penuh perlindungan.

Walaupun sebenarnya aku sedih, karena kamu hanya mampu melakukannya disaat kamu ingin, bukan disaat aku juga ingin.

Aku juga ingat, aku merasakan seluruh kebahagiaan umat manusia jatuh mengambruki diriku saat kamu memandangiku dengan tatapan sayang seolah cuma aku bintang yang bersinar di kelamnya duniamu.

Walaupun entah mengapa, aku selalu merasa kamu bersikap acuh, dingin dan malu untuk berada/duduk didekatku saat kita berada di tengah keramaian dunia nyata.

Aku juga ingat, aku merasakan jantungku sempat berhenti berdetak saat kamu meraih bahuku dan berkata: “Mungkin banyak wanita disekeliling aku yang perduli dan juga sayang sama aku, tapi kayaknya ngga ada deh, dari wanita-wanita itu yang mampu sayang sama aku sebesar rasa sayang kamu ke aku”.

Walaupun aku sebenarnya sangat cemburu lalu diam-diam suka menangis karena kamu lebih suka bertemu teman-temanmu dibanding aku. Well, akhirnya aku juga tau bahwa itu dunia kamu, dan aku nggak punya daya apa-apa untuk bisa merubahnya.

Oh iya, kamu masih ingat juga nggak? aku pun nyaris berteriak waktu aku bilang: “kenalin om, ini pacar aku…!”. Sehabis upacara pemakaman Pakdheku sepekan lalu. Mungkin kamu nggak tau, aku jarang sepamer itu untuk urusan pacar.

My Schatzi, aku mau kamu tau. Mulai sekarang, semua bait “walaupun” tadi akan menjadi tanggunganku, sayang. Dan dengan semua ketentuan Allah bagi kita, dan juga demi rasa sayang dan cintaku untuk kamu, aku akan mencoba untuk ikhlas menerima kondisi itu.

Seperti yang pernah dikatakan seseorang padaku dahulu, bahwa manusia beradab adalah juga yang tahu membalas budi. Dan aku selalu berusaha memenuhi kebaikan itu, walaupun untuk kamu, agak sedikit berbeda. Aku nggak tau sama sekali bagaimana aku harus membalas semua kebaikan kamu yang telah menyentuh lubuk terdalamku.

Bersama kamu, aku merasa jadi manusia yang lebih baik, yang ikhlas, yang percaya bahwa cinta itu memaafkan, yang mampu untuk mengakui kekalahan, yang mampu menerima keadaan, yang mampu menolong siapapun yang membutuhkan, yang mengajarkan aku untuk tetap berdzikir dan mengingat bahwa diatas langit masih ada langit.

My Schatz, sayangku, bantulah aku untuk meyakinkan kamu jika kebebasan kita ini adalah sebuah pergulatan bathin dan juga suatu usaha memerdekakan cinta dalam hidup kita, sehingga kita harus dapat mengusahakannya bersama.

Jangan bingung, sayang, aku memang sadar dan serius untuk menempatkan kata bersama disitu. Karena bersama berarti ada aku.. dan juga ada kamu.

Dengan begitu, aku yakin, aku akan merasa aman berjalan disisimu. Dan kuharap kali ini… kamu juga mau meniti jalan itu bersamaku.

…ditulis di kamarku - di malam sehabis hujan itu…

-Love you as always-

—————————————————-

Jemari gw berhenti untuk menekan tuts keypad. Bibir ini bergetar. Mata gw terlalu basah oleh genangan airmata. Pria sederhana ini mampu membuat gw terus mengingat senyumnya yang terisyaratkan dan menentramkan. Kali ini, nafas yang gw hela terasa lama dan tak berjeda.

Suddenly, pop-up Yahoo messenger di layar monitor gw muncul. My Schatz.

“Dul, kamu lagi ngapain?”.

“aku lagi nulis surat cinta buat kamu”

Surprisingly, dia langsung sign out.

Gw tersenyum. Gw tau dia nggak terlalu pandai berkata-kata. Atau dia nggak seromantis para pria di film India. Tapi gw lebih lega. Setidaknya yang penting, untuk saat ini, meskipun dengan cara yang tidak biasa, gw tau, dia selalu mengingat gw dalam setiap langkahnya.

Hm, gw raih cangkir kopi gw, mengirup aroma yang membuat gw kembali menitikkan airmata. “Here’s That Rainy Day” milik Julie London mengalun pelan. Ah, spending a day with someone you love, no matter how difficult life gets, is more meaningful than spending the most of your life with someone you do not love.[]

===========================================================================================

Tuhan, Beri kami hati untuk menerima segala sesuatu yang tidak dapat kami ubah, beri kami keberanian untuk merubah segala sesuatu yang dapat kami ubah, dan beri kami kebijaksanaan untuk membedakan kedua nya..

Gw punya sahabat baik, let’s call her Manda. She’s perfect as a friend. Menyenangkan, cantik, pintar (sekaligus polos), dan luar biasa baik hati. Manda sangat gw sayangi, dan gw rasa semua orangpun begitu.

Tapi Manda punya satu masalah: Nyokapnya.

Nyokapnya Manda adalah tipikal seorang Istri pembesar atau ibu-ibu pejabat golongan elit yang pernah tinggal lumayan lama diluar negeri. Well, masalahnya, setiap pembesar memang punya beberapa kecenderungan tertentu. Misalnya saja merasa berbobot kalau sudah ngomong, lebih berbobot lagi kalau tak mendengarkan orang lain. Yang paling parah, asal menilai lalu memberi pembedaan perlakuan pada orang lain hanya berdasarkan atribut (baca kasta) yang melekat pada diri orang lain tersebut (contoh: bagaimana status keluarga, baca: lo datang dari keluarga tajir atau melarat neh????)

Untungnya, gw dateng dari keluarga melarat. Bokap gw nggak pernah jadi pejabat, apalagi pergi keluar negeri. Bokap gw nggak punya Villa di puncak-puncak bukit. Bokap gw nggak ngerokok cerutu import. Karena bagi bokap gw, nilai dan tata krama yang sangat penting adalah bahwa laki-laki itu harus bertanggung jawab, laki-laki harus menghidupi. Itu saja.

Gw jadi merasa terlempar jauh ke masa lalu, saat hidup dan kebebasan masih terpasung, terkotak-kotak, dan paham feodalisme masih bercokol disetiap proses perjalanan hidup manusia. Dimana harta, tahta, status dan kebangsawanan darah itu sangat berarti, sedangkan tiada tempat lagi bagi kebangsawanan jiwa dan budi pekerti.

===========================================================================================

Gw kenal nyokapnya Manda, gara-gara suatu hari, beliau pernah telpon gw. Simple aja, cuma nanya gw lagi sama Manda apa nggak. Kebetulan waktu itu, gw pulang cepet dari tongkrongan, jadi gw nggak tau si Manda pergi kemana. Gw pikir that’s it, setelah gw bilang ‘gw nggak tau Manda dimana’, telpon bakal ditutup, dan pembicaraan bakal selese.

Ternyata gw salah, selain melakukan ‘underground-stalking’ menanyakan Manda dan segala aktivitas Manda di luar rumah, nyokapnya Manda juga menanyakan secara mendetail tentang hal ikhwal siapa gw, tentang what I do for living, tentang pekerjaan orang tua gw, tentang kuliah gw dimana dan ngambil jurusan apa, dimana gw tinggal, gw punya pacar atau nggak, dsb dsb.

Semua pertanyaan itu, gw jawab dengan jujur. Dan dari situ lah Nyokapnya Manda tau latar belakang keluarga gw (yang ternyata kere).

Well, mulanya gw agak risih dan bingung, Karena gw pikir, emang penting ya nanya bokap gw siapa dan pekerjaannya apa? tapi buru-buru gw tepis semua kekhawatiran dan prasangka jelek gw tentang itu. Yah namanya baru kenal, wajar jika ingin tahu lebih banyak.

Setiap nelpon gw, nyokapnya Manda selalu menekankan (atau lebih tepatnya mengancam) agar gw nggak ngasih tau Manda jika selama ini nyokapnya suka telpon gw. Karena, Manda bakal marah ke nyokapnya kalau aja nyokapnya ketauan mata-matain Manda dari belakang. Gw pun menurut, “Sendhiko Dawuh, Tante, aku janji nggak bilang Manda”.

However, mentang-mentang gw bukan berdarah ningrat, semakin lama, nyokapnya Manda semakin bersikap seenaknya dan tidak bisa mengontrol kata-kata dan intonasi bicaranya saat nelpon gw. Beliau selalu bicara dengan nada tinggi, membentak dan memberi perintah selayaknya bendoro ke babunya.

Well, kalo kata Pramoedya, seorang terpelajar itu harus bisa adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Makanya gw (yang merasa terpelajar) memaklumi dan gw berusaha TETAP bersikap sesopan mungkin. Gimanapun Nyokapnya Manda itu orang tua yang harus gw hormati.

Namun, gw kok rasanya semakin yakin jika memang BETUL gw diperlakukan berbeda sama nyokapnya Manda. Karena secara nggak sengaja, kawan setongkrongan yang lain (sebut saja Lila) cerita bahwa dia juga ditelpon nyokapnya Manda, Sependapat, temen-temen tongkrongan gw yang lain juga begitu, ikut ditelpon sama nyokapnya Manda.

Bedanya, ke temen-temen gw yang lain (kebetulan, se-tongkrongan, memang gw doang yang paling kere), Nyokapnya Manda begitu halus, lembut, baik, dan sangat sopan. Bahkan pake kata-kata panggilan “Sayang” segala. Tadinya gara-gara itu, gw merasa sedikit bersalah karena udah berprasangka buruk sama nyokapnya Manda yang ‘baik hati’ itu. Mungkin setiap nelpon gw, sampe pake marah-marah karena beliau lagi PMS atau senewen sama hal lain aja, trus kebawa ke gw. Yah, lagi apesnya gw aja.

===========================================================================================

Seminggu, dua minggu berlalu, sebulan pun lewat. Nyokapnya Manda udah jarang banget nelpon gw.

Nah, di suatu malam, gw nongkrong lagi sama temen-temen gw, Manda juga ikut. Kami ketawa-ketawa, Karaoke, cela-celaan sampai kelaperan. Setelah itu kami memutuskan untuk cari angkringan, makan dipinggiran jalan. Tanpa diduga, HP gw bunyi. Caller: Nyokapnya Manda.

Gw excited (campur panik). Gw pikir saat itu adalah kesempatan baik buat gw untuk ngerubah imej gw supaya akhirnya nyokapnya Manda bisa baik sama gw. At least worth to try. Nggak ada salahnya dicoba. Namun hasilnya….. diluar ekspektasi.

“Udah deh!! Tante nggak bisa tahan lagi!!! Kamu dan teman-temanmu itu sudah keterlaluan dan semakin liar!!! Nggak bisa kontrol waktu dan nggak terkendali!!! Pokoknya..!! Tante mau Manda pulang sekarang!!!”.

Cuma itu kata terakhir yang gw inget dari nyokapnya Manda sebelum Beliau nutup telpon. Entahlah, saat itu, rasanya ada yang retak dihati gw. One simpel question: WHY ME??? Apa karena gw miskin trus dia boleh bersikap begitu sama gw?

Lalu dalam tangis kemarahan gw yang tertahan, gw inget temen gw, Isro. Dia pernah memberi nasehat ke gw bahwa Tuhan mempunyai maksut tertentu dengan memberikan kita dua buah mata. Mata yang kanan untuk melihat kebaikan, yang kiri untuk melihat keburukan. Mata kanan untuk melihat Kebaikan pada orang lain dan Mata kiri untuk melihat Keburukan pada diri kita sendiri.

Amarah gw pun mereda. Karena “mata” ini harus bisa melihat dengan benar secara fungsi yang dijelaskan diatas tadi. Ada hikmah yang harus diurai dibalik semua kejadian ini. Dan ada pelajaran yang Tuhan mau berikan ke gw.

===========================================================================================

Kata guru ngaji gw, manusia bukanlah makhluk mulia, namun manusia diberikan potensi kemuliaan. Manusia menjadi mulia ketika potensi kemuliaannya difungsikan, sebaliknya, manusia dapat menjadi hina ketika potensi kemuliaannya diabaikan.

Seseorang tidak menjadi terhormat karena ia seorang pejabat atau direktur, serta tidak menjadi rendah karena ia seorang sopir, satpam atau kuli bangunan. Kehormatan seseorang terletak pada bagaimana ia menyikapi posisinya, bagaimana ia berperilaku pada fungsinya.

Manusia yang paling beruntung adalah kalau ia punya jabatan tinggi sekaligus memiliki kesantunan dan kearifan kepada bawah-bawahannya. Dan manusia yang paling sial adalah kalau sebagai seorang kuli ia masih saja suka tidak jujur dalam pekerjaannya.

Ah, jika saja Nyokapnya Manda mampu mengingat bahwa dibalik semua kehormatan, mengintip kebinasaan, dibalik hidup adalah maut, dibalik kebesaran adalah kehancuran, dibalik persatuan adalah perpecahan, dibalik sembah adalah umpat, pasti beliau akan memperlakukan gw lebih baik lagi.

Semenjak itu, gw jadi autis menjelang tidur, lama terjaga dikegelapan kamar. Dan gw jadi merasa tenang saat menikmati indahnya cahaya lampu teras rumah yang masuk dan jatuh melewati kisi-kisi blindfolded jendela.

Semburat cahaya tadi membentuk garis gelap-terang teratur ditembok kamar. Gelap lalu terang. Kemudian gelap dan terang kembali. Begitu sederhana, seperti halnya hidup. Karena memang tidak ada yang lebih sederhana dari hidup: lahir, makan, minum, tumbuh, beranak-pinak, dan berbuat kebajikan.

Ya, berbuat kebajikan. []

===========================================================================================

Dan diterimanya hidup yang sedemikian keras dengan sisa cinta itu, dengan luka-luka yang diterimanya, dengan keseorangdirian, yang lengang dalam hidup mudanya…

Minggu pagi. Sekeluarga besar gw (besar dari Hong Kong! :p orang cuman bertiga!) sedang asik di teras rumah. Bokap gw lagi asyik nguras kolam ikan. Disebelah, arah berlawanan, ada nyokap gw yang duduk pake dingklik sambil nyemangatin bokap. Dan di depan pintu ruang tamu, gw lagi asyik ungkang-ungkang kaki sambil megang buku lama yang menceritakan tentang Roofstaat (kerja paksa) yang merompak Jawa hingga 800 juta gulden.

Lalu Emak gw nyuruh bokap mindahin ikan Sepat yang masih kecil-kecil, karena takut dimakan ikan-ikan Lele yang nggragasnya bukan main. Tapi bokap gw bilang “Nasipnya si ikan lah kalo sampe dimakan sama para Lele” sambil ketawa-ketawa jail. Gw cuman ngelirik sambil ngrepus krupuk bawang dari toples kaleng biskuit.

Nggak beberapa lama, ada suara kegaduhan. Ributnya bukan main. Gw sampe setengah loncat. Wah ada orang berantem!!!!

Rupanya ada dua tetangga gw yang berantem, sebut saja Bu Tarigan dan Pak Joko. Pak Joko marah-marah karena ada bau bangkai disekitar rumahnya, ternyata bau bangkai itu disebabkan oleh ayam sang Bu Tarigan yang sudah mati berhari-hari di got depan rumah Pak Joko. Karena posisi matinya si ayam nlisep (halah bahasanya), maka keberadaan sang ayam tiada diketahui.

Sangat sulit melerai pertikaian ini, Pak Joko mengaku benar, Bu Tarigan juga mengaku benar.

“Ayam ibu ini mati mendadak, bisa jadi flu burung kan..!!! Ini sangat meresahkan saya! Harusnya punya piaraan itu diopeni, bu!!” Sahut Pak Joko ketus. “Lah, mana saya tau lah, ayam saya mati kenapa pak. Memangnya ayam saya harus saya pasangi GPS satu per satu???!!!” Teriak Bu Tarigan nggak kalah jengkel. Gw pikir… dua orang ini ada benarnya, dua-duanya sama-sama punya kebenaran.

===========================================================================================

Malamnya, setelah akhirnya ‘jenazah’ ayam itu dibakar, gw lalu tergelitik dan ngajak diskusi bokap tentang menyingkapi sebuah kebenaran. Kalau disederhanakan ada tiga model kebenaran yang berlaku dan dialami manusia. Pertama, benere dhewe (benarnya sendiri). Kedua, benere wong akeh (benarnya orang banyak). Dan, ketiga bener kang sejati (kebenaran hakiki).

Jika kebenaran itu berjalur banyak begitu, maka gw menyimpulkan bahwa kebenaran itu tidak satu. Lho piye to? Kebenaran itu harus satu definisinya, yaitu B-E-N-A-R yang BENAR. Jika memang semisal ada banyak “benar”, ada kemungkinan kebenaran yang satu bisa kres dengan kebenaran yang lain. Jadi “nggak” benar lagi dong?

Sambil memeluk kaleng bekas biskuit yang berisikan kerupuk bawang made in pasar Ciputat, gw mencoba berfikir lebih tajam. Gw menahan laju nafas dan menyipitkan kedua mata gw, alih-alih berharap semoga pencerahan itu segera tiba (padahal seret).

Sambil nyumet rokok, bokap gw masih asik mikir. Gw pun masih asik dengan krupuk ditangan. Mata gw terus menatap, mengajak bercakap. Bokap gw mengelempuskan asap rokok ke udara, beliau paham, namun diam.

“Iyh dina shirotol mustaqim” Bokap gw kembali menghisap rokoknya.

Jidat gw bekerut. “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus?” Balas gw dengan intonasi bingung.

Bokap gw melanjutkan, “iya, lalu, kenapa bukan ‘Tunjukkanlah kami jalan yang benar?’ hayoooo.. ”.

Gw menggeleng tolol.

Bokap lalu bercerita soal kejadian tadi pagi. Beliau menjelaskan jika kebenaran itu HANYA ada satu, dan kebenaran yang satu itu milik Tuhan. Jadi, tidak ada yang namanya bener-nya manusia a, benarnya manusia b, benarnya manusia c, dst.

“Lalu bagaimana kita mencari kebenaran yang satu itu, pops?” tanya gw semrawut.

“Dalam kehidupan ini, manusia selalu menemukan keruwetan hidup, kesulitan hidup, karena mencari kebenaran atas satu sama lain.” Jidat gw tambah berkerut nggak karu-karuan. Bokap melanjutkan: “ya gini deh, kamu misalnya, bersengketa sama orang lain. Sebaiknya yang kamu cari ya jangan kebenaran”.

“he??? lah kok gitu???” gw memotong ngeyel tanpa ‘sendhiko dawuh’.

“Lho iyo, nek kamu cari kebenaran, bakal njlimet. Kamu punya sebuah kebenaran, orang lainpun punya kebenaran. Padahal kebenaran itu cuma ada satu.” bokap gw menunjuk langit-langit rumah. Tanpa sadar mata gw mengikuti. “Dalam bermasyarakat, sebaiknya yang kamu cari itu BUKAN kebenaran, melainkan kebaikan.”

“Maksutnya?” akhirnya gw meggeser tempat duduk dan menaruh toples krupuk di meja. Supaya lebih konsentrasi.

“Nek kowe, nggolek benere dhewe, yo rak bakal ketemu. Lah wong maksute wis bedho, garise jugak wis bedho. Mulakno, tadi aku bilang, jika bersengketa, yang dicari itu KEBAIKAN, bukan kebenaran.”

“sendhiko, rama…”, cengiran gw semakin lebar.

“Nah, seperti yang tadi kubilang, setiap kamu sholat kan kamu sebut itu ‘iyh dina sirothol mustaqim – tunjukkanlah kami jalan yang lurus’, ya to? Kenapa bukan tunjukkan kepada jalan yang benar? Hayo? Weeee ojo main-main mbek ayat kuwi, nduk. Jika kamu, melakukan sesuatu apapun dengan lurus, itu berarti kamu sudah baik. Dan kebenaran itu akan datang sendiri, seiring sejalan, jika kamu dan hidupmu sudah berada pada lingkaran kebaikan.”

===========================================================================================

Gw mendapatkan sebuah pelajaran berharga lagi. Pelajaran yang tidak lahir dari perpustakaan, referensi atau buku-buku, melainkan bersumber dari pengalaman otentik, dari keringat dan airmata realitas, dari nurani yang jujur dan pikiran yang jernih. Kalo kata guru ngaji gw, itu ilmu sejati. Mutu dan pahalanya sepuluh kali lipat dibanding dosen yang mentransfer kalimat-kalimat dari buku ke diktat paramahasiswanya. Haha..!!

Well, hidup bukanlah impian, melainkan kenyataan-kenyataan yang dingin dan telanjang, tapi kenyataan itu pun tak perlu buruk jika orang tiada menghendakinya. Dia tidak buruk, dia indah, selama ada keindahan di dalam bathin kita.

Begitu juga dengan pemaknaan dari sebuah kebenaran itu sendiri. Malam itu gw tidur pulas, diiringi senyum puas atas semua jawaban bokap yang terasa sangat pas.[]

===========================================================================================

Answer less. Question more.

Comply less. Question more.

Believe less. Question more.

Curhat Tentang Perempuan

Kawan gw, seorang gadis cantik (secantik Julia roberts) sesekali mengulangi pernyataan yang sama (fyi, selalu sama) semenjak pacar barunya yang duda beranak tiga, membelikan smart-phone (lets called it so) yang katanya canggih itu. “Lo harusnya beli Blackberry, yum. Lo bisa ym-an ama cek facebook gratis loh. Seru kan? Lo harusnya malu ama slip gaji, masa nggak mampu sih beli? Blackberry doang gitu loh, Sis?”.

Ditawari begitu gw cuma nyengir dan mengangkat Sherry glass gw (yang isinya mirip spirtus: blueberry-coke), “Cheers for your life” lanjut gw.

She may not know, that my old-small–tiny-cute-not-too-expensive handset (well, the vendor sounds not categorized it as a smart one of course) appearetly has an HSDPA connection, that is OF COURSE allows me to roam freely in a cyber world. Duh, not only chatting and doing some fun with social networking site.

===========================================================================================

Disebuah kereta express lokal dalam kota. Mata gw nggak bisa kedip saat ada cewek cakep (banget) ini, duduk didepan gw persis, memainkan rambut brunet bucheri-nya (bucheri: bule cet sendiri) sambil bertelpon ria, entah dengan siapa.

Cewek ini mirip sekali dengan Victoria, si vampire ganas dalam buku Twilight (sebuah seri novel karya Stephenie Meyer). Berbalutkan Trench coat leather (sejenis rain coat) yang gw rasa nggak beli di Indonesia. Belum lagi tasnya, hm.. Quintessential woman’s handbag by Coco Chanel. Pokoknya pasukan elit wanita james bond bangeeet, keren abis deh, gw pengen banget bisa kaya gini.

Nggak beberapa lama, ni cewek nutup telpon. Cewek model gini pasti nggak bisa deh kalo nggak ngecek make up dong, so diambilnya kaca kecil dari tas mahalnya, ups ada yang bleber kayaknya. Otomatis secepat kilat dia merogoh tissue lalu secepat mungkin mendempul ketidak-sempurnaan tadi. Dan saat itulah, saat dimana semua yang ada dibenak gw tiba-tiba aja blur, tiba-tiba gelap.

Tao ga seeeeh?! tu cewek buang tissuenya keluar kereta (saat itu kereta belum jalan, pintu masih buka). Iya!! buang sampah diluar kereta, di Peron. Bukan dibuang pada apapun yang notabene tempatnya sampah. GOSH!!! She just can put it for a while inside her stupid-expensive-bag, for heaven’s sake!

She may not know that beauty with no attitude is a totally BIG dissaster!

===========================================================================================

Auch lagi saat gw terkenang pada suatu malam belum lama berselang, sebut saja Sophie, temen gw yang lain, MARAH-MARAH sama segerombol cewe satu kantornya tapi lain divisi: “Sempet ya kalian ke Salon pas Lunch disaat GENTING kaya gini?!! Dasar gak professional..!!! pake acara korupsi jam makan siang and ngeberantakin RENCANA kerja gw pulak!!! Apa sih mau loe-loe pada?!”

Sophie, sambil menunjuk muka innocent para Barbie itu, melanjutkan dengan intonasi pelan namun menghujam: “Boleh gak kalo gw anjurkan kalian untuk bisa lebih BALANCE sebagai manusia!! kalian kok kayaknya gampang banget ya ngeluarin uang ratusan ribu buat ke Salon?!!! Apa susahnya sih beli buku seharga 35rebu cuma buat ngencengin ISI OTAK KALIAN??!!”

What a lovely statement! Ingin rasanya gw melakukan pengalungan bunga kepada Sophie saat itu, tapi apa daya, kayaknya she’s not in the mood for that sweet kind of things.

Sementara itu, baik gw ataupun yang dimarahi cuma bisa mingkem. Suara Sophie bener-bener kenceng dan waow… menggetarkan sukma. Hahaha! Rupanya cerita boleh cerita, Sophie tuh udah dari tadi nyari-nyari segerombolan cewek admin network, admin finance, GA atau tau deh admin yang mana lagi ini.

Yang gw tau, saat itu Sophie mau melakukan sebuah Business Trip dan butuh cepet dicarikan tiket, diurusin hotel, cash advance dsb dsb. Dan yang bikin Sophie marah, dari jam 11.15 gerombolan Barbie itu udah pada nggak ada semua, dan ironisnya mereka baru pada nongol lagi sekitar jam 14.30!!! (sekitar 3 jam cuy). Jiah, kalo gw ada di posisi Sophie, udah gw angkat mesin fotokopi, gw hujamkan ke jidat tu orang pada (destruktif ya? hahaha..)

===========================================================================================

Satu lagi kasus lain. Ada teman, of course perempuan, yang menyembunyikan umur sesungguhnya. Approaching 30 ngakunya early 20. Some place at café, kalo para cewek seumuran gw sedang kumpul bareng lalu didatangi cowok-cowok lucu, jempol kaki gw selalu jadi korban, diinjek sama temen saat gw polos njawab: “gw 26” ke cowok-cowok lucu itu. Setelah diinjek, gw cuma meringis dan berbisik: “what did I do?!”.

Di lain kesempatan, kadang mereka bertanya: “kenapa sih yum, lo cuek aja proclaim bahwa umur lo sudah nyaris 30?”.

“Helloooo, I am 26 and will be 30 anyway, so what?? It’s God’s gift to reach that age, why denying it …. duh, feels like rejecting His gift…”. Dan as usual, kalimat itu cuma ada dalem hati aja, diluaran gw cuma bisa nyengir lebar sambil mengangkat bahu: “kaga tau dah…”.

===========================================================================================

Sambil taking a deep sigh lalu disambi nyruput kopi, gw mbatin: a women, so ugly on the inside that she couldn’t bare on the living if she couldn’t be beautiful on the outside? Oh not again. Dan autis gw pun kumat.[]

===========================================================================================

ayolah nona muda, jangan nampak begitu sedih, matahari secuil itu tiada akan pernah ubah warna kulitmu jadi semacam kuli pribumi. dan apa pula gunanya payung kecil genit yang kau bawa-bawa itu? - Kartini

.:tentang sakit hati:.

Belakangan, gw menemukan teori bahwa besar kecilnya sakit hati kepada seseorang dapat secara tepat ditakar dari seberapa berarti seseorang bagi hidup kita. Dan menurut gw, sakit hati itu bukan dendam, bukan irony, bukan juga rasa kecewa akibat suatu sebab yang endingnya nggak sesuai terhadap apa yang kita harapkan. Atau, sakit hati, bukanlah suatu hal keji yang mampu merubah seseorang biasa menjadi kriminal.

Sakit hati, bagi gw hanyalah seupil efek yang timbul disaat kita berusaha melepas apa yang kita anggap sebagai milik kita (padahal pada kenyataannya: BUKAN). Agak sarkastik, gw perjelas artinya sebagai greedy – tamak.

Tamak untuk tidak berbesar hati mengakui bahwa Tuhan sesungguhnya maha adil, sehingga jika kita merasa hidup ini tidak adil, lantas kita sakit hati.

Atau, tamak untuk tidak berbesar hati mengakui bahwa kita hidup untuk saling berbagi kasih, sehingga jika kita hanya berbagi tanpa menerima bagian, akhirnya ada acara sakit hati.

Atau, tamak untuk tidak berbesar hati mengakui bahwa kita terlahir untuk mencintai, sehingga jika toh tidak dicintai, ujungnya sakit hati.

===========================================================================================

Gw pernah merasa mencintai seseorang. Gw menyelipkan kata ‘merasa’, karena belakangan gw tahu, bahwa orang ini sama sekali nggak merasa dicintai dengan cara gw mencintainya.

Saat ini gw berusaha berbesar hati untuk menyadari bahwa sebetulnya nggak ada cinta dibalik semua perhatian, kasih, janji, kata indah, dan sejuta rayuan dari lelaki ini. Tapi entahlah, untuk membesarkan hati ternyata sakitnya bukan main.

Dalam keadaan jatuh cinta kita menangkap senyuman sebagai perhatian, kita menemukan realitas lain bahwa sebait kata janji sebagai sesuatu yang istimewa. Mereka yang jatuh cinta sebenarnya sedang mendustai, mengubah realitas yang ada. Dusta tak lain dan tak bukan adalah bentuk lain dari cinta.

Jadi tersadar sejenak (dan tersenyum lagi tentunya) saat mendengar dialog dari sebuah film komedi lokal:

Pria 1: Lepasin gw! Biarkan gw pergi! ketika kata sudah ngga bermakna, biarkan golok gw bicaraaaaaaaa..!!!

Lelaki 2: Tenang bung, senjata tajam tak hanya membunuh manusia, tapi juga bisa membunuh reputasi!!

Hahaha, gw jadi malu, gw nggak ada bedanya dengan pria di film itu. Membawa “golok” untuk menyelesaikan masalah. Haha, bukannya selesai, bisa-bisa malah gw yang “terbunuh” karena gw memegang “golok” tadi tanpa kesadaran penuh akan fungsi dan efek yang akan diakibatkan si “golok” tadi.

===========================================================================================

Gw tau, saat ini, gw mengalami kegagalan. Kegagalan untuk sebuah penantian berumur 10 tahun, kegagalan untuk membuat diri gw percaya bahwa gulungan cinta dan waktu itu saling terkait satu sama lain. Lewat kegagalan itu, gw menerima jika cinta ya cinta, tak ada kaitannya sama sekali dengan “waktu” yang ditarik, demi timbulnya benih bernama cinta.

Gw jadi ngikik sendiri, menertawakan kebodohan gw, teringat seorang kawan menghibur pada saat “depresi” kemarin lewat kalimat: “tenang dul, kegagalan adalah sukses yang menghindar. Hahaha..

Setidaknya sakit hati itu mulai hilang, hati gw mulai membesar sekarang. Sometimes, the person that we love the most, is the hardest to be loved, demikianlah aturan mainnya, kita harus sepenuhnya sadar akan hal itu, supaya nggak tamak, supaya nggak sakit hati. []

===========================================================================================

Sayonara Mowhawk, I won’t stay stood at your window anymore. I’m leaving on my jet plane.

..hujan yang memberi ilham..

Denting Piano John Williams mengiringi hujan sore yang terasa sama sekali berbeda. Sudah bermenit-menit gw memandangi dinginnya kaca buram dari dalam kereta yang basah namun sama, tanpa rasa. Butir air hujan yang bermain-main diluar masih bulat utuh dan tak tersentuh. Hm, nggak ada kecemasan, nggak perlu penantian, hujan kali ini turun dengan kepasrahan yang mengagumkan. Begitu deras, begitu lepas, namun pasrah dan begitu indah.

Gara-gara ujan gini, gw jadi inget bokap gw. Tadi pagi, gw rada-rada eyel-eyelan sama bokap. Coz my Dad, Oh God, He’s so kelebayan (over react). Nggak cukup hanya payung dan jaket anti peluru (hehehe bukan kevlar beneran sih), gw pun diharuskan pake rain coat yang, asli deh, beneran seadanya. Bayangin yeh, pasangan ‘ntu rain coat aja (antara atasan dan bawahan), totally nggak match. Kurang labih penggambarannya: bagian atasan (baju) polos, berwarna kuning yang noraknya minta ampun, sedangkan bagian bawah (celana), motifnya doreng-doreng militer angkatan darat. Buset.

Secara gw nggak mau ngantor bergaya ondel-ondel kayak tadi, ya gw menolak secara halus semua itikad baik bokap gw. Tapi bokap marah-marah, I know, he’s simply worried, takut gw sakit. Yeh, tetep aja gw ogah. So, pas doi meleng, gw tinggal aja pergi. Kabur. Hehehe.

===========================================================================================

Di kereta sore yang gw naikin ini, sambil cekikan mikirin apa kata dunia kalo tadi pagi gw jadi berangkat pake setelan perang alakazam ala bokap, gw memerhatikan sesuatu. Ada bapak-bapak. Sepatunya becek. Bajunya Lecek, topi dan bajunya setengah basah.

Di tangan kiri si bapak ada buku mewarnai bergambar anak laki-laki berpeci dan anak perempuan berjilbab. Karena kereta penuh, bapak tadi cuma bisa jongkok sambil memegangi sepeda mini yang keliatannya sih, menurut gw nggak baru, tapi seluruh body sang sepeda ditutupi plastik. Semua orang yang ada disekeliling si bapak tadi menggerutu, Kurang lebih gara-gara sepeda si bapak makan tempat pastinya.

But it doesn’t matter, si bapak terlalu memperhatikan sepeda mini itu, sambil kembali berulang kali mengelap-ngelap basahan hujan yang menempel di plastik sepeda mini itu. Dan gw? Of course terlalu autis untuk memerhatikan keasyikan si bapak sepeda mini tadi.

Waw. Betapa cintanya bapak itu dengan anak-anaknya (but which parents dont?). Berpeluh, berhujan, pulang membawa hadiah untuk anaknya. Berharap menerima lengkingan kegembiraan dari mulut mungil anak-anaknya saat mereka mendapati ayahnya membawa kado special yang barangkali, buat orang kebanyakan, tak seberapa itu.

Ah, gw jadi senyum-senyum sendiri membayangkannya. Pasti bokap gw yang menggila itu (ini bukan hinaan, melainkan panggilan sayang) melakukan hal serupa dengan bapak tadi. Soalnya gw inget, bokap gw pernah belingsatan nyari raket badminton, gara-gara gw mao mogok makan kalo nggak dibeliin (padahal kan nggak mungkin juga gw mampu mogok makan :p).

Seinget gw, dulu kata pakdhe gw, bokap itu preman, nggak ada yang berani dah ama bokap. Tapi nyatanya, saat itu, bokap nyerah and mau aja nurutin permintaan gw yang so najong dan nggak banget ituh, hahaha. Wah, betapa laki-laki mampu berubah secara demikian significant demi cintanya kepada anak-anak mereka.

Tapi ntar dulu. Gak berapa lama, setelah gw senyam senyum, gw terusik. Gw denger mas mas ganteng disebelah gw bilang, “Bapak itu nggak sadar banget sih kalo dia mengganggu ketertiban umum?? Ini kan kereta AC”, sambil akhirnya melengos.

Gw, sambil mencucu (menampakkan bibir yang maju-maju), ngelirik ke mas-mas ganteng tadi. Mbatin, “Gosh, please, not again……”.

Entahlah, gw selalu bertemu orang-orang apatis yang seolah mereka sepenuhnya ainul yaqin jika mereka fully-equipt, well-educated, untouchable, kasta mulia, serta tau dan mengerti betul secara detail tentang segala aturan kemanusiaan.

Audzubillahiminassyaiton, lirih gw. Benar kata guru ngaji gw, jangan membayangkan setan itu dimana, bayangken raimu dhewe, karena saiton ternyata adalah akibat dari prana/energi negatif yang kita ciptakan sendiri, yang membangkitkan proses sosial destruktif baik secara fisik ataupun secara kejiwaan.

Lantas, lalu, kemudian, setelah itu, berputar-putarlah pertanyaan yang ingin sekali gw tempelin di jidat mas-mas tadi: “WOY!! MENURUT LOH, apakah kesopanan seseorang, kenecisan penampilan seseorang, kostum seseorang, identik dengan realitas permoralnya???”. Muke gile. Ternyata mas-mas ini masih bermasalah dengan tampilan luar seseorang.

Hm, masih sakit mentalnya.

Seseorang, supaya mulia dimata masyarakat, harusnya terus menimba ilmu lewat perilaku. Salah satu tembang uro-uro (lagu jawa) yang sering bokap gw nyanyikan adalah lagu Kinanti.

Kinanti menganjurkan agar kita sungguh-sungguh melakukan tapa prihatin dengan tujuan mencapai keperkasaan, dengan mengurangi makan dan tidur. Selanjutnya, Kinanti juga mengajarkan kita untuk melatih bathin agar mampu menangkap kepekaan serta tanda-tanda disekitar kita, agar kita jangan hanya mampu untuk sekedar menjalani hidup secara kaku, melainkan mampu ‘hidup’ luwes dengan Iqra (membaca).

===========================================================================================

Seorang kawan, sebut saja Om Pay, kemarin bilang ke gw “aku ingin menjadi makin bodoh dan bebal, karena makin sedikit aku tahu… aku akan makin bahagia.

Analoginya bisa jadi seperti melihat anak kecil yang selalu bahagia-bahagia saja, pergi main, berlari-lari, belajar menggambar yang disukai, jikapun akhirnya capek, dia lalu akan minum susu sebelum akhirnya tertidur. Dan seterusnya: mengalami pengulangan yang serupa.

Gw sebetulnya agak tergelitik dengan pernyataan Beliau. Sejauh yang gw kira, tidak harus berhenti pada kerelaankerelaan untuk menjadi sedikit tahu (tak paham) terhadap hidup agar menjadi bahagia.

Ada sesuatu yang lain, yang dapat membuat kita lebih bahagia jika kita bersikeras untuk tahu dan memahami aliran hidup. Well, nggak harus 100% paham, gw yakin 10% paham pun sudah cukup.

Yah, sederhana aja, seperti saat kita memahami kerelaan sang ayah, memanggul-manggul sepeda dihari hujan, dan melindungi buku-buku mewarnai dari lunturan air yang menerjang dari sana sini demi kecintaannya terhadap anak.

Jika saja mas mas ganteng (namun cacat mental – well, I considered him as retarded, even if he’s normal and handsome) tadi merasakan keindahan-keindahan itu. Hm………..

(Padahal, menurut riwayat, Nabi Khidir - Sang guru kehidupan, hadir kepadamu dengan suatu jenis performance yang kau benci, kau usir, yang kau tolak tadahan tangannya. Hm, gimana mau dapet ilmu tentang kehidupan kalau mentalnya masih retarded begitu?)

Setengah terpejam, masih diiringi denting piano John William (kali ini OST Schindler’s List) gw pun tak berhenti mendaraskan doa kepada langit yang masih menurunkan hujan.

Semoga Kau limpahi rahmat kepada para lelaki yang mencintai keluarga dan anak-anak mereka dengan seluruh jiwa dan raga yang mereka punya, wahai Tuhanku yang maha memuliakan orang-orang yang Engkau kehendaki.[]

===========================================================================================

..Indonesia yang ngangeni..

Plaza Senayan. 7:30pm. Gw clingak-clinguk sendirian. Entah udah berapa ratus kali jus berwarna merah centil didepan gw, gw aduk-aduk nggak karu-karuan. Pun setiap orang lewat, sepertinya, memandang haru ke gw. Well of course, that’s because I’m the one who’s sitting alone there. Tapi gw nggak resah, justru gw biasa aja. Gembira malah.

Sudah beberapa minggu ini gw hadir dan eksis kembali di Jakarta tercinta, yang sumpek, uyel-uyelan dan nggak kalah semrawut bin macet bak neraka, walaupun sebenernya gw belum pernah mampir kesana :p . Bukannya belagu, after all, gw ngerasa kehilangan sesuatu aja.

Gw mulai kangen temen-temen gw di negeri nun jauh disana. Juga kangen sama para BMI (Buruh Migran Indonesia) yang tiap minggu ngumpul di Victoria park. Ah, BMI, yang jumlahnya ribuan. Ribuan rakyat kecil yang pergi merantau menjual tenaga kasarnya, diusir oleh kemelaratannya sebagai warga dari suatu negara yang sebetulnya sangat kaya.

*sigh*

================================================================================

Gw jadi inget, Kemaren, sumpah loh, gw kaya orang bego dipinggir jalan, gara-gara bingung, mau nyebrang, tapi nggak ada zebra cross, nggak ada traffic light buat pejalan kaki/pedesterian (Lokasi tepatnya di perempatan Al Azhar – Telkom KBB).

Jadi selama kurang lebih 15 menit gw diem aja dipojokan, gw asli nggak merasa aman, mobil disitu kenceng-kenceng semua, dan gw nggak tau, apakah nyebrang disini, pada dasarnya, boleh apa nggak. Sampe suatu ketika, ada anak SMA nyebrang aja dengan santai sambil SMS-an. My God! Puyeng gw liatnya.

Belum lagi rasa kangen gw sama burung-burung gereja yang imut-imut lagi nurut, yang nemplok seenaknya dimana-mana. Plus para burung dara yang bebas centil bermain ditaman-taman kota, tanpa harus takut disiksa, ditembak, digoreng, ataupun dibumbu kecap.

================================================================================

Tapi itu belum ada apa-apanya dibanding cerita gw yang berikut. Hahaha, beneran bikin gw geli sekaligus kesel soalnya.

Tiap hari, gw ngantor naik kereta. Kereta yang gw naiki cukup aman, ber-AC, tempat duduk empuk, yang naik wangi-wangi. Tapi meski wangi, mereka itu ya masih ada aja yang nggak beli tiket. Karena mekanisme/manajemen baik jadwal ataupun pertiketan memang masih jauh dari standar pemenuhan kata: “layak”.

Suatu Sore menjelang malam, disebuah kereta yang walaupun padat namun tak kunjung merayap, seorang Mbak berdandan Menor yang duduk disebelah gw colek-colek lalu bertanya: “eh, ini tiket keretanya berapa ya?”.

Gw jawab “5000 rupiah, mbak”. Kami diam kembali.

Beberapa saat kemudian, Mbak berdandan Menor itu tiba-tiba tanya lagi: “Kalo nanti kondekturnya lewat, kasih berapa ya biasanya? Saya lupa BELI karcis nih, tadi buru-buru” (padahal gw juga buru-buru, tapi sempet beli tiket tuh).

Ditanya begitu, gw gelagepan, tapi gimanapun, gw nggak mau bikin Mbak berdandan Menor itu panik, gw tetap berusaha adep silokromo, “ya kasih aja seikhlasnya, mbak. Biasanya sih sama, barangkali 5000 rupiah” lalu gw tersenyum. Suwer, manis banget deh pokoknya (ke-lebay-an).

Eh tau-tau mak slepat, si Mbak berdandan Menor tadi nyinyis, memandang gw dengan tatapan nanar, “Ih, saya sih jujur aja ya mbak, sudah biasa ikut prosedur(beli karcis), warga negara yang baik loh saya, jadi ngga biasa yang main-main belakang gitu, ini kan karena tadi buru-buru aja, makanya nggak beli karcis, lupa, Mbak berdandan Menor itu membuang muka, seolah walaupun dia yang salah kaga beli karcis, tapi tetep ajeh gw yang jadi hinaaaaa banget (walaupun beli karcis), karena mengerti sisi gelap praktek kolusi ticketing terselubung diperkereta-apian Indonesia.

“Lah..!! gundul-gundul pacul!! arek mbujukan!!! Slompret!! Jagad dewo, Edhian tenan, ditulungi malah mentung! Asyyiem!!”. Mak pringis, bak menahan kentut, gw mesam-mesem sama Mbak berdandan Menor tadi. Well, as I recall, gw cuma bisa ngamuk didalam hati aja, walaupun sebenernya gw pingin banget nyeteples karcis kereta gw, dibulu mata palsu si Mbak berdandan Menor yang terpasang amburadul itu.

“Enak aja, Asal lo tau!! gw kaga pernah absen beli karcis!!”. Tapi ndilalah, sekali lagi kok ya, yang keluar malah muka cengengesan gw aja, wes itu thok, nggak pake ngamuk, melainkan priangas-pringis. Susah memang kalo punya watak sumbadra kayak gw, ditindas terus! Hahaha.

Hm, jadinya kerasa bener banget kata-kata pak Mario Teguh di acara SUPERnya: “bergaullah dengan orang-orang baik, agar kita mudah berperilaku dengan baik”. Mungkin Mbak berdandan Menor itu mainnya tau deh sama orang apa. Orang-orangan sawah kali, makanya sawan. Hehehe.

================================================================================

Well, life is just like taking picture, exposes for shadow and develop for highlight. Jadi karena kejadian-kejadian tadi, gw lantas nggak serta merta benci sama Jakarta, lalu mau ikut pindah ke negara yang jauh lebih civilized dari Jakarta (no offence).

Bagaimanapun beratnya, manusia tetap memiliki rahasia kemampuan dalam mengatasi alam. Apabila batasan rahasia itu terbuka, maka manusia bukan saja menjadi transendental atau bebas dari kungkungan alam, tapi juga sekaligus berarti ia menapak ke level yang lebih tinggi, yang semestinya memang ia tempuh.

Masih banyak yang bisa dijadikan pelajaran hidup disini, banyak orang-orang mulia yang hidup sederhana. Yang memulai hidup dan menggali keimanan mereka melalu titik terendah yang pernah mereka alami.

Dan sesuatu akan dikatakan naik dari sebuah level tertentu jika sebelumnya, sesuatu tersebut berada di level bawah. Dan titik terendah dibutuhkan setiap orang agar dia mampu melihat dirinya sendiri lalu memaksanya untuk naik menjadi sesuatu yang lebih tinggi. Pasang surut seseorang, naik turun kehidupannya, terkadang bisa melenakan dan membuatnya berhenti mencari sesuatu yang lain yang sejatinya lebih baik.

Disitulah titik terendah diperlukan. Sebuah titik kehidupan yang akan memaksa seseorang untuk memperbaiki dirinya, lalu tak akan pernah berhenti untuk bersyukur atas apa-apa yang telah diperolehnya selama ini.

Makanya, gimanapun, gw tetap cinta Indonesia. Cintaaa banget..!

Dari sini gw bisa belajar arti sabar menunggu macet, syukur bisa disambi membuka dialog dengan Tuhan, ngobrol sendiri ngalor ngidul, dari hati ke hati yang bersifat pribadi.

Disini gw bisa belajar arti kewaspadaan dan keberanian untuk nyebrang jalan tanpa rambu/tanda apapun, syukur bisa disambi komat kamit menyebut (mengingat) nama Tuhan memohon keselamatan setiap kali melangkah nyebrang.

Disini gw juga bisa belajar mengkondisikan amarah sebagai inversi suatu joke kiriman Tuhan, syukur bisa disambi berpikir bahwa jika Tuhan maha humoris, kenapa kita tidak turut tertawa dan menerima rahmat tersebut dengan tangan terbuka yang selebar-lebarnya?

Tuh gimana negara kita tercinta Indonesia nggak ngangeni?

================================================================================

“drrrrrttt… drrrttttt” Ponsel gw bergetar.

Jus merah centil didepan gw mulai mencair. Gw hentikan perputaran konstan sedotan ditangan yang sedari tadi seperti mengaduk-aduk segala angan.

“hallo?”
“hey, aku udah didepan McD, kamu dimana?”

“aku didepan tamani express”
“Coba kamu berdiri deh”

Gwpun dengan sigap berdiri. Melihat seorang laki-laki biasa dengan bola mata yang cahayanya mampu menenggelamkan dunia gua. Yang tiap tatapannya mampu menyusuri tiap mimpi-mimpi gw selama ini. Dia melambai dengan ceria.

Tuh gimana negara kita tercinta Indonesia nggak ngangeni?[]

================================================================================

..kritik itu..

Masih jam kantor. Gw usap-usap ujung jejari tangan gw (bukan jemari). Jari gw pada lecet-lecet dan nyut-nyutan gara-gara motongin (setengah meteran) satu rol kabel UTP, trus di crempling satu-satu ke RJ45. Kalo satu rol ada sekitar 50 meter, gw ngerjain 100 kabel LAN berarti, duh.

Well, sebenernya asyik juga sih, secara gw terkadang suka mendadak autis. Sekalian lah dalam rangka nostalgia juga, ngerjain tugas prakarya kayak jaman SD.

Gw usap lagi pelan-pelan. Yah ujung jari gw jadi kasar. Hm, gw berpikir gila sejenak, amatlah sungguh malang laki-laki yang nanti seumur hidup menggandeng tangan gw, yang gw raba wajahnya saat dia demam atau meriang, yang gw sentuh bahunya perlahan dengan maksut menguatkan untuk bangkit lalu menjalani hidup.

Kenapa malang? Ya tentu karena apa yang dia harapkan dari kecil (believe me, men always do), dapet seorang putri jelita yang tangannya halus putih gemulai bak sutra, eh ini malah dapet tangan gw: kasar-kasar dan rada gelap lagi. Hahaha.

Lagi asik-asik becanda ama pikiran gw sendiri, eh ponsel gw jumpalitan. Satu message di inbox. Hm, gw senyam-senyum aja bacanya. Dari seorang teman, teman menggila gw (sebut saja mas Alang). Oh, rupanya mas Alang rada protes soal penilaian gw terhadap foto beliau di salah satu situs fotografi tanah air.

Sambil nyengir, gw taro lagi ponsel gw disamping tumpukan configurasi file yang sudah selesai gw kerjakan.

===================================================================================

Hm, jika dicermati, hidup ini tercermin dalam lingkaran dualisme, baik secara kebendaan ataupun secara sifat. Namun, manusia cenderung hanya mau menerima separuh dari lingkaran tersebut. Menerima kelahiran, tapi tidak kematian, menerima kemenangan tanpa menoleh pada kegagalan, meraih glamoritas dunia, bukan akhirat. Padahal the true liberation itself comes from appreciating the whole cycle (fully!). Dan bukan hanya sekedar berpegang pada separuh bagian dimana kita merasa cocok dan nyaman disitu.

===================================================================================

Jadi inget, sekitar hampir seminggu lalu, gw pernah bersitegang dengan seorang om-om, karena umurnya 44 tahun katanya. Gara-gara debat pada salah satu diskusi. Dia marah sekali dengan kritikan gw. Sampai dia perlu repot-repot mengirim mail dan menjelaskan panjang lebar tentang dirinya. Berasa HRD aja gw, pakek nerima CV segala. Hehehe.

Beliau menjelaskan nama, asal-usul, umur, profesi, tempat bekerja, jabatan, banyak anak buah yang dimiliki untuk saat ini, keadaan keluarga, anak, istri, serta nana dan nini yang lain. Gw cuma mengelus dada. Sambil nyengir tentunya.

Heran aja gw. Ternyata selama ini seorang manusia belum boleh dinilai dari cara berpikirnya tanpa melibatkan atribut yang melekat didirinya, dihargai dari ketenangan dan kebijaksanaan jiwanya bukan dari jabatan serta banyak anak buah yang dia miliki. Well, it’s so much oldies sekali man! (bukan konservatif, karena ada kalanya konservatif itu baik).

Emosi timbul ketika seseorang mengkritik kita, mengacuhkan kita, menyepelekan kita atas sesuatu hal yang kita peroleh, dimana sebenarnya kita nggak setuju, kita malah dengan angkuhnya beranggapan jika kita berhak mendapatkan lebih dari itu.

Dan parahnya, ada beberapa orang yang kadang suke ktlisep (misuderstand) tentang beda pengertian mengkritik dan menghujat. Mengkritik itu walaupun pahit tapi tetap berbuah solusi, plus mengkritik itu tanda sayang. Tapi kalau menghujat, ya hanya berkoar-koar tanpa solusi, bahkan tanpa mengikuti norma-norma serta etika yang jelas.

Dari semula, kita memang selalu hidup bermasyarakat namun kurang memperhatikan estetika, karena kita tak pernah dididik untuk memiliki taste yang baik dalam bergaul,tidak dididik untuk beradab, tidak dididik untuk memperhatikan martabat, derajat, serta kemuliaan sebagai manusia.

Memang sih, gw akui, within each emotion there is always an element of judgement. Selalu tetap ada yang dinilai. Misalnya ada seseorang yang berpendapat: “gw kan temen lo, maka lo nggak boleh ngeritik gw”. Nggak gitu brur.

===================================================================================

Suatu hari, gw juga pernah berantem sama Zikhry di subway. Gara-gara menurut Zik, gw selalu berkelakuan baik sama orang karena ada ekpektasi lebih. Maksutnya gini, gw baik sama orang, dan (gw berekspektasi) orang lain juga harus baik sama gw, tapi kalo pada kenyataannya orang itu nggak baik sama gw, ya gw bakal kecewa, dan itu menurut Zik nggak worthed aja, mending cuek, orang mau ngapain juga terserah.

Trus pada end line kalimatnya, klise, kata-kata yang sangat typical, keluar dari seorang Zikhry, sebuah iklan: “kalo gw sih….”. I don’t care kalo elu. This is me, this is who I am.

Akhirnya saat itu melihat komentar dan gaya Zik ngomong, gw bete aja, dan dengan marah gw tereak “Lo sinis banget ya jadi orang?!”. Walaupun padahal tadinya gw hampir menerima kritikan Zik. Kalo aja dia nggak iklan.

Ah, mungkin Tuhan nggak (atau belum) mengizinkan gw untuk jadi orang cuek kayak Zik.

Kami berdua sama-sama Aries, mungkin karena itu kerasnya sama. Yah besoknya kami tetep biasa lagi, gosip-gosip lagi. Namanya kawan. Yasyuddu ba’dhuhum ba’dho, saling memperkuat satu sama lain.

===================================================================================

Kalau kata Recto Verso-nya Dee, ada keindahan di balik penderitaan, ada kegembiraan di balik penderitaan, semuanya ada dua sisi. Secara cuman Zik juga temen gw disini ya akhirnya ujung-ujungnya, walau manyun-manyun gw tetep baekan sama dia.

Balik lagi ke urusan emosi dan kritik tadi. Intinya, adalah diri kita sendiri sebagai makhluk, hanya sebatas makhluk, yang menciptakan ketakutan itu sendiri. Ketakutan terhadap neraka, surga, kekalahan, umur, kekecewaan, sakit hati, kebenaran, bahkan kejujuran. Dan itu sangat manusiawi, tapi tetap harus diperbaiki.

Seperti yang pernah gw diskusikan kepada seorang guru yang juga gw anggap ayah, bahwa jujur itu sulit, tapi menerima sebuah kejujuran itu jauh lebih sulit.

===================================================================================

Yeah, apapun yang terjadi, kalau kita menciptakan destruksi, artinya jika kita melakukan perbuatan yang kita yakini benar, tapi dengan toriqoh, kafiyah, siasah, atau cara, yang ternyata salah (karena menciptakan destruksi), itu tetap tidak lulus dalam teori kesalehan sosial. Menimbang definisi dari DR.H.Mohammad Sobary, bahwa kesalehan sosial adalah ketika perbuatan baik didalam ide dan gagasan kita itu sifatnya baik serta diaplikasikan secara tidak menimbulkan masalah sosial.

Jadi, jika kita baik, tapi dalam penerapannya menimbulkan satu masalah, atau ada orang yang menderita karena kebaikan kita, itu menjadi tidak sholeh. Sholeh adalah kebaikan kita yang lulus menjadi kemaslahatan sosial, rahmatan lil alamin untuk orang banyak.

Semoga lain kali kita semua dianugerahkan kesalehan serta kearifan budaya, sehingga kita mampu untuk mengkritik orang secara baik, lalu orang yang dikritik malah akan berterimakasih dan minta nambah (demi kebaikan dirinya sendiri). Amin.[]

::Lelaki oh Lelaki::

 

Beberapa waktu kemarin gw mulai berani untuk membuka diri perihal memulai sebuah relationship. Walaupun nggak berarti gw ganti status (hehehe tetep aja jomblo) tapi at least ya gw mau-an lah sekarang buat dicolek-colek ama cowok :p (najis banget bahasanya).

Tapi berangsur-angsur (untuk sekarang) keterbukaan itu kok rasanya pengen gw tutup lagi. Gw jadi parno ajeh gara-gara si Zikhry.

Kemarin di subway, Zikhry cerita, katanya kalo mau nikah itu, kita harus cek kesehatan. Gw cuma diem aja, gw yakin pasti cerita si Zikhry ini kelanjutannya rada aneh-aneh. Akhirnya bener dugaan gw, Zik cerita kalo temennya dia (sebut saja Bang Udel) nyaranin, kalo misalnya elo mau nikah, supaya nggak ada rasa was-was, penyesalan, penasaran, atau apa lah sebelum nikah, harus diadakan dialog terbuka untuk saling jujur.

Paling nggak alur dialognya ya seputar si cewek masih perawan atau nggak, si cowok udah pernah begituan belum, punya sejarah penyakit apa aja. Ya intinya, demi masa depan cemerlang gitu loh. Gw menganggap semua itu merupakan hal yang wajar, secara emang hidup gw lurus dan normal-normal aja, sehingga dialog kayak gini nggak jadi masalah buat gw. Ya ngga?

Tapi yang jadi concern mendasar gw (bahasa simple: bikin gw senewen) adalah sewaktu Bang Udel berstatement:
Semisal dialog itu nggak berhasil, dan you masih belum percaya apakah tu calon bini lo jujur apa kaga, ya lo harus cek langsung, kalo perlu (ekstrimnya) lo suruh dia bugil (tuing tuing tuing). Supaya lo kagak kaya beli kucing dalem karung. Siapa tau bini lo toketnya gede sebelah atau bulu ketekan. Wajarlah, hanya sebatas cek up ala militer gitu. Ibaratnya kan, lo mau beli barang buat dipake seumur hidup, kalo tau-tau lo dapet barang apkiran hayo?! ntar bakal nyesel dah lu.

Anjrit. Gw beneran tersinggung kali ini. For God’s sake, apa maksutnya barang apkiran? Barang second grade? Barang kw-2? Apa kabarnya kalo cewek itu juga manusia? Punya perasaan, nalar, naluri dan juga emosi. Edan cowok-cowok jaman sekarang!

“Tapi coba lo pikir lagi deh rum, ada bener juga kan? Loe realistis aja deh, kalo misalnya calon lo itu nggak perfect, gimana?” Kalimat terakhir dari Zikhry itu bener-bener nampol. Weh, dunia kayanya kejam banget terhadap kaum perempuan. Kenapa jadi kami yang musti telanjang? Kenapa juga jadi kami yang harus dites dan dibuktikan?

Kalo misalnya abis disuruh bugil ternyata nggak cocok? Tetep direject? Atau nggak jadi beli? Muke gile. Serius dah, sakit tau nggak mendengar kenyataan kalo ternyata jenis cowok kayak Bang Udel masih berkeliaran dimana-mana. Nyali gw jadi ciut lagi. Secara gw emang kagak percayaan ama cowok. Hilang deh semua khayalan gila gw about how we still can fall in love, but in a free way, even without any fear of being rejected.

Trus gw tanya ke Zikhry, kalo misalnya pacarnya dia sekarang memang apkir, alias kaga perawan, gimana? Zikhry njawab sambil cengar-cengir: “ya kan dia udah berani jujur. Mending jujur kayak gitu, setidaknya ya gw masih bisa terima, gw anggap itu karma gw ajah”

Gw potong: “Kok gitu?”

“Ya iyalah, daripada gw menemukan ketidaksempurnaan itu sendiri? Hayoh, lebih sakit ati lah gw. Kalo udah gitu mah, paling ekstrimnya, gw.. kawin lagi..”

==========================================================================

Hm, jadi kangen Zuber, laki-laki ini dulu selalu mensemangati gw kalo gw lagi mellow, dan selalu protes kalo gw selalu ngedumel soal kelakuan cowok yang nana dan nini. Kalo udah mentok, si zuber biasanya bilang: “kalo mau diterima apa adanya, ya harus bisa menerima apa adanya”. Dalem banget tuh kalimat.

Yah sekedar pembelaan, mungkin gw terlalu over-protektif terhadap diri gw. Gw suka sih bilang ke diri gw sendiri: Yum, lo jangan pernah terlalu sayang atau cinta sama seseorang, karena lo nggak bakalan tau nanti endingnya nanti kayak gimana. Mungkin bisa jadi ini gara-gara bokap gw juga. Ampun dah.

Hm, anyway, hari dimana Zikhry ketawa-ketawa menceritakan semua hal tadi emang dah lama lewat. Tapi masih ada berasa pilu aja gw (gile, kayak lirik lagu :p). Daripada manyun puasa-puasa, gw memutuskan untuk jalan-jalan sendiri pas wiken. Eh pas banget baru berapa meter dari kosan, hujan, mana gw nggak bawa payung, yah nasip.

==========================================================================

Udah hampir seperempat jam gw berdiri mandangin hujan. Hujan kali ini terlalu basah untuk ditambah air mata. Yet for a serious seeker seperti gw, inspiration is everything. Jadi, mau bagaimanapun berasa gundah hati ini, tetap harus ada hikmah yang diambil.

Well, reality is not necessarily lethal, tetapi (at least) kudu mampu membuat kita berpikir satu dua kali untuk lebih memberi pemakluman terhadap hidup dan tetep kembali pada jalur shirotol mustaqim (jalan yang lurus). Toh sekalipun misalnya jalan kita nggak lurus, Tuhan yang Maha Baik pasti akan tetap mengizinkan kita untuk berputar.

==========================================================================

Kesempurnaan itu sendiri merupakan suatu identitas. Dan identitas tidak boleh dibentuk, identitas harus selalu terbentuk dari dalam. Karena ketika identitas hanya merupakan susunan orisinalitas yang notabenenya dibentuk maka kesempurnaan hanya akan menjadi kosmetik.

Lain halnya jika kesempurnaan itu terbentuk dari dalam, hal itu akan menjadi identitas yang matang. Dan identitas yang matang adalah identitas yang berguna bagi penyandangnya.

Like Buddha ever said once: Do not mingle (bercampur, bergaul), because you have different intentions, therefore your views are different and your actions will of course be different. Walah, mbuh lah. Ila allahi marji’ukum - Kepada Allah kembalimu semuanya.

Well, thinking that someone is beautiful is only a concept. But have you ever thought: what is beauty? We may say that it is in the eye of the beholder. Nah makanya didalam geraian rintik hujan, gw sedikitnya mulai dapet pencerahan, jika mungkin, someday, somehow, gw bakal nemu cowok yang cinta dan nerima apa adanya gw, tanpa harus nyuruh gw bugil. Jadi gw semestinya nggak boleh jiper cuman gara-gara Zikhry cerita hal konyol beginian.

These kind of problems are just like the sky, which has no end in space. Bisa jadi ini Cuma sekedar perihal yang ingin disampaikan Tuhan melalui bala tentara langitnya ke gw, bahwa sesungguhnya the real source of fear is ‘not knowing’. Kalo kata bokap gw: “Wes nrimo ae wuk, jo keakehan mikir, uwong ki wes ono dalane masing-masing”.[]

==========================================================================

If you are enjoying a cup of tea and you understand the bitter and the sweet of life, you will really enjoy the cup of your tea then. So, not knowing is also a blessing.

::tentang memberi::

Semenjak puasa, gw jadi Narkoleptik (suka ngantuk berlebih kalo siang), dan percayalah, saat itu gw pengen bet bales dendam, jadi nanti abis teraweh gw bertekad mau langsung molor. Tapi pas udah jam abis teraweh, ngantuknya malah ilang. Asem. Ngajak berantem banget kan??

Tapi memang kalau malam, gw jarang ngantuk. Mungkin karena pikiran gw suka mengambang kemana-mana, terlalu liar..! (Jangan mesum loh).

======================================================================================

Coba deh lo bayangin, gimana gw kaga mikir? Ternyata masih aja ada orang macem gini. Orang yang dengan sangat entengnya mampu ngasih tips 50 dollar ke doorman untuk ngebukain pintu, sementara diwaktu yang lain orang ini masih maksa nawar kaos dipedagang kaki lima sampe abis-abisan, padahal kaos itu harganya cuma 15 dollar. Gila man! Itu pedagang kaki lima yang ibaratnya banting tulang siang malem buat ngasih makan anak dan keluarganya gitu loh.

Well, gw tau, semua orang itu nggak sama. Tapi mbok ya’o. (sigh…)

======================================================================================

Gw sangking herannya, ampe nanya ke temen sekantor gw, dengan harapan, mungkin cuma orang tadi aja yang begitu, sedangkan orang laen, termasuk temen gw ini nggak mikir begitu.

"Elo kalo ada orang minta-minta, lo kasih duit nggak dul?”. Temen gw njawab “ya nggak lah, kebiasaan, duit tuh nyarinya pake keringet, pake kerja keras, enak aje”.

Lalu beberapa hari selanjutnya, gw tanya lagi, “kalo misalnya dia nggak ada kerjaan lain selain ngemis, lo masih nggak mau ngasih juga?”. Bisa ditebak, temen gw jawab “nggak lah!”.

Lalu beberapa hari setelah hari yang tadi, gw tanya lagi, “kalo misalnya dia bener-bener butuh, lo masih nggak mau ngasih juga?”. Temen gw jawab “nggak”.

Gila! speechless gw… Sama aja, man!

======================================================================================

Kawan, jika kita ingin pintu rezeki atas kita terbuka, maka kita harus membuka pintu rezeki dahulu bagi orang lain. Itu pepatah paling kuno yang selalu gw pegang. Bagaimana kamu mau memuliakan dirimu sendiri, jika kamu belum mampu untuk ikhlas bersedekah demi memuliakan orang lain?

======================================================================================

Waktu kapan hari, di suatu ceramah, Ustad gw cerita, sebut saja ada dua orang bernama Joni dan Paino. Dua orang ini ketemu sama pengamen jalanan, masih anak-anak. Karena kasihan, Joni merogoh sakunya, tapi Paino menahan tangan Joni.

Paino: "Aduh Jon, Plis deh, jangan daaah dikasih duit anak kecil itu. Nggak mendidik tauk!"

Joni: " (menghela nafas sebel) Saya nggak bisa mendidik, bisanya ngasih!" Joni lantas memberikan uang kepada pengemis tadi, sembari melirik Paino, "Daripada ngasih enggak, mendidik juga enggak….".

Horotoyokono !!![]

======================================================================================
everyone is understood, but everyone understand differently

..kenapa harus sama?..

Weekend minggu lalu, seperti biasa, gw menjelajahi kota saat pagi menjelang siang. Ini nggak sekali-dua kali gw mampir ke bioskop paling rame di Mongkok (bukan Mangkok lho ya?). Tapi ya, waduw, baru sekali ini gw kedapetan apes. Haha A-P-E-S.

Pas lagi antri masuk ke bioskop (disini beli tiket diluar, nanti baru masuk ke dalem untuk nyari studionya). Tiba tiba aja gituh, ada pria tua, mungkin umurnya sekitar 45-50 taun lah. Ngeliatin gw, sinis banged (pake ‘d’ biar mantebh), dari ujung jempol kaki sampe ujung jidat. Trus tiba-tiba aja, dia marah-marah.

Karena marah-marahnya pake bahasa alien, ya gw lempeng dot kom. Mana gw tau artinya apa. Rupanya, semakin gw lempeng, dia makin marah. Lama-lama do’i sadar, gw kagak ngaruh kalo dimarahin pake bahasa die, lah emang gw ngga ngerti siy. So, akhirnya, dia marah-marah pake bahasa Inggris.

"Look people, look at her (nunjuk ke gw), is she not feeling hot? This summer! What a moron!". MORON. Gw cuman diem bin mingkem. Ngeliat respon gw yang datar, dia makin heboh dong.

"Get cat over your tongue, kun yant? You are not supposed to scare people with your clothing style!". KUN YANT = PEMBOKAT. Gw baru sadar, dia nggak suka liat gw panas-panas gini (summer) pake jilbab. Gw mah tetep cuek.

Nah puncaknya pas mau masuk kedalem ruangan bioskop, dia (sengaja) nabrak pundak kanan gw dari belakang, kenceng banget sambil bilang: "Get move on!! You’re fvcking freak!!". FVCKING FREAK. Masya Alloh.

Gw menghentikan langkah gw. Entahlah, yang bisa gw lakukan cuma istighfar. Berasa pasrah aja.

Gw sempet nangis pas udah duduk di korsi bioskop. Well, belakangan ini beban dipundak gw lagi banyak emang sih. Temen-temen gw lagi pada menjauh, disini gw sendiri, dan nggak ada satu orangpun yang tanya kabar gw. Yah jadi tambah mellow gituh. Saat itu gw sempet mbatin: “Apa dosa gw ya Tuhan”.

Tapi trus gw berasa di TAMPAR lagi. Gw keingetan ama nasehat temen gw, Isro: “Kalau sedang diuji, janganlah menguji”. Gw ini lagi diuji, ngapain juga gw nantangin Tuhan balik: “Apa dosa gw ya, Tuhan”.

Lah, dosa gw kan emang udah banyak. Ngapain pake nanya? Sungguh Dodol. Makanya begitu inget lagi diuji, sedikit demi sedikit, gw mulai terhibur dan nggak nangis lagi.

(Iyyaka na’budu, wa iyyaka nasta’in - Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan).

============================================================================

Trus nggak lama, mungkin 1-2 hari setelah kejadian itu, gw dapet pesen dari teman, sebut aja Mas’ud. Mas’ud curhat: “Yum, gw baru dapet treatment gak enak dari temen seruangan, ini orang yg sama yang memperlakukan gw sebagai second grade creature, just because I am ugly

Hm..Terserah lo mau percaya apa nggak, tapi bagi gw, Mas’ud ini nggak jelek. He’s a very special and unique human being. So special that I always admire how he’s speaking, the way he’s thinking. Well, his ideas is always been amazed me!

============================================================================

Why most people that have a different way of style, have different way of how they see, listen and understand about something were always considered as a freak?. We are so running out the appreciation of others for being special.

Lo liat deh, liat semua orang. Semua orang sekarang berusaha keras untuk sama. Labeled by Kenzo, LV, Gucci, Armani.

Kalo tetangga punya sejumlah x benda, lo harus punya, al least, x+1 benda seperti mereka.

Kalo temen lu berkata A, at least lo harus punya tendensi 75% setuju akan A (or else lo akan di marginalisasi, dikacangin, dianggep aneh, nggak ditegor lagi, baik langsung ataupun lewat YM).

Kalo sekarang summer and semua orang pake baju kurang bahan, lo juga harus pake bikini. Atau? Lo akan dibilang Moron a.k.a Fvcking freak kaya gw.

Kalo lo nggak rapih, necis, bergaya borjuis kaya komunitas lo, lo bakal dibilang secondary creature, dibilang ugly. Kaya si Mas’ud.

============================================================================

Plis people, Lo melakukan sesuatu hal, bukan karena hal tersebut menyenangkan buat Lo, ataupun bukan karena secara politis memang lo harus gitu. Apa sih? Cuma demi sebait kata: S-A-M-A? Lalu lo nggak boleh being unique, dan lo nggak boleh look special.

WTF?

Ini semua simbol kesombongan. Dignity yang gw rasa nggak perlu ditonjolkan.

Kenapa sih orang nggak boleh berbeda? Kenapa kita harus meributkan perbedaan? Kenapa orang selalu gatel kalo ngeliat sesuatu yang beda? Kenapa orang jadi emosi kalo ada golongan yang lain yang nggak sama ama dia? Kenapa semua harus sama?

KENAPA?

Gw rasa bloody-crusade war which costing thousands of lives, juga terjadi karena adanya enforcing for the different visions of morality. Nah tetepkan? Gara-gara PERBEDAAN.

(sigh)

May God have mercy on us.

============================================================================

Gw pernah dengerin ceramah pendeta Buddha, pendeta itu punya cerita sederhana tentang teh. Katanya: Bagi kita, Tea is only leaves in a hot water. Tapi bagi pecinta teh yang betul-betul fanatik, ada teh yang dibuat dengan komposisi campuran khusus dan diolah dengan sangat special. Campuran special itu dikasih label: Iron Dragon. Trus dijual dengan harga menggila untuk sebungkus kecil saja. So, bagi para fanatik teh Iron Dragon, tea is not about a leaves in a hot water.

Kesimpulan: It is not the appearance that binds you, it’s the attachment to the appearance that binds you.

Jadi, janganlah menilai seseorang sebelah mata hanya karena dia berbeda. Pahamilah, mungkin dia punya alasan untuk berbeda. Bukan lantas kita menjadi apatis dengan nggak perduli atau lantas nggak protes akan perbedaan dia, bukan. Tapi justru karena kita menghargai perbedaan itu.

Pendeta itu juga bilang: When the self is full of pride, it manifests in countless ways: a narrow-mindedness, racism, fragility, fear of rejection, fear of getting hurt, insensitivity, etc. Semua keburukan itu bersumber dari ketidakpedulian.

Dan dengan diam dan berusaha mengerti, bukan berarti tak perduli. Karena ignorance is simply about not knowing the real facts, having the facts wrong or having incomplete knowledge.

Pendeta ini bijak banget. Gw ampe nggak perduli gw diliatin orang-orang karena gw satu-satunya muslim disitu.

============================================================================

Gw suka duduk aja sendirian di taman, memikirkan banyak hal. Ada kalanya gw berpikir, secara fundamental, people really like to have freedom only for theirselves but not for others. Padahal teorinya, as we liberate from our own fear, our presence will automatically liberate others. Yah namun, bagaimanapun, halah, namanya juga manusia.

Sebagai contoh, kita bisa aja marah, sangat marah, hanya karena: kita marah sedangkan orang lain nggak. Dan lo berpikir, orang lain itu harusnya marah juga.

Atau contoh lain, ada yang berpikir: “Arum tuh susah banget sih dibilangin, dasar kepala batu!”. Sementara disisi lain, sebenernya gw bukan susah dibilangin, tapi gw lagi benar-benar berpikir, apakah dengan mengikuti pendapat lo, gw akan menyenangkan hati lo, padahal gw sendiri berbohong tentang apa yang sebenernya gw rasain.

Gw nggak mau lah jadi pembohong hanya demi kata: SAMA, Se-ide, nurut, dll. Called me: EXTREMELY impatient, selfish, short fuse, egotistical or whatever! (kata ramalan zodiak sih, gw gituh :p)

See? Orang lebih mau nerima kebohongan (atau hal yang SAMA ama pikiran dia) dibanding menerima kenyataan yang sebenarnya.

I am laughing so hard. Bukan menertawakan orang lain itu. Tapi I found that it’s really true, that emotions sometimes can be very childish. (I give another example: you might be upset one day because your partner is too possesive and the next day because he’s not possesive enough. See? It just damn confusing, right?)

============================================================================

Gw berusaha keras menemukan integritas pribadi gw, karena melalui penelusuran karakter asli kita (lets called it integritas pribadi), kita bakal mampu untuk hidup sesuai dengan apa yang kita ketahui, apa yang kita nyatakan, dan apa yang kita lakukan.

Berkata benar, menepati janji, memberi teladan tentang apa yang kita yakini, dan memperlakukan orang lain dengan adil dan murah hati adalah beberapa langkah kongkritnya. Mungkin gw belum bisa sesempurna itu, setidaknya gw berusaha (sedang berusaha).

Mengambil kutipan Jack Welch: ”Rasa percaya diri, berterus terang, dan kemauan sungguh-sungguh untuk menghadapi kenyataan, meskipun hal tersebut sangat menyakitkan adalah inti dari hidup dengan sadar.[]

============================================================================

Iyyaka na’budu, wa iyyaka nasta’in - Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

..seri dosa yang lain..

Gw punya best friend (temen SMP), cewek, namanya Dara. Si Dara ini sering berkeluh kesah di status YM soal LDR (Long Distance Relationship)-nya dia. Gw liat Dara khawatir gitu sama hubungan dia ama pacarnya, padahal si pangeran ganteng dan baik hati itu udah minta Dara untuk nunggu 3 tahun lagi aja, karena si cowok ini masih ada di New York sekarang.

Well, segala sesuatu emang nggak pasti sih, tapi bagi gw, status si Dara udah lebih dari cukup. Kategori AMAN-lah. Nggak kayak gw, udah jomblo, kronis pula. Harusnya gw yang kebat kebit. Hahaha.

Ngomongin soal kawin gini, semalem gw yang sedang homesick dan sensitip serta suka marah-marah ini, ngakak sejeder-jedernya, gara-gara disuruh kawin.

Jadi ada temen, namanya Ipung. Nah nggak ada angin nggak ada ujan, si Ipung tiba-tiba aja nyuruh gw kawin, dengan alasan: “umur lo udah uzur!”

Jah, gw dibilang uzur. (~..~)”

Gw sih nimpalin sambil ngegaring aja, sampe pada satu moment si Ipung bilang, “Cepetan nikah lah yum. Hm, kalo berkenan, gw mau kok. Untuk menghindari lumuran DOSA yang tidak diinginkan. Karena pada hakikatnya, semakin lo uzur, ntar dosanya nambah kalo nggak nikah-nikah”.

BAH!

Asli, bukan lamarannya yang penting, tapi kata DOSAnya yang lebih nemplok di muka gw. Berasa pendosa banget kalo seumuran gw belon kawin. (sigh).

Even though we are perfect, but really, no one or nobody around us is perfect. Tetap aja, kerasa claustrophobic, kalo semakin banyak orang-orang (bahkan yang lo nggak kenal sekalipun) nyuru-nyuru lo nikah.

Baik sih, niatnya ngingetin, tapi kalo akhirnya bergunjing, nah ini yang gw kaga demen. Gw sendiri yang jalanin aja, super santai trus kenapa orang-orang musti repot nana dan nini tentang ke-uzuran gw?

=======================================================================

Tapi ini bukan ngebahas gw dan segala keuzuran gw kok. Gw cuma pengen ngasih tau para cowok aja, besok-besok kalo ngelamar cewek, yang jujur, apa adanya, nggak usah pake alasan pengen ngehindarin dosa.

Kalo ceweknya normal, ya kaga papa. Masalahnya cewek sekarang pinter-pinter, jadi rayuan lo musti dibikin lebih sadis, apalagi kalo ceweknya rada sableng kaya si Kanya temen gw ini, beuh, ati-ati aja yak?

=======================================================================

"I can’t understand people who married for sex. Sex is not purpose but BONUS! Anything you shared with your beloved people is great, moreover, with S-E-X. Sex with unbeloved people can be FUN, but just.. NOT great"

Gw cuma mengangguk-angguk tanda mengerti. Gw ambil serauk kacang tanah gurih lagi asin favourit gw. Gw kupas dan kunyah-kunyah sambil terus konsentrasi mendengarkan ocehan si Kanya. Tanpa menyela.

"Gw jadi bisa ngerti, kenapa orang jaman sekarang jadi gampang banget memutuskan untuk cerai.." Kanya menghentikan kalimatnya, memberi kode dan mempersilahkan gw untuk menyanggah.

Gw cuma geleng-geleng kepala, menunjuk mulut gw yang penuh dengan kacang sambil naik-naikin alis yang secara implisit berarti meminta Kanya sendiri yang meneruskan kalimatnya.

"Kenapa coba? Kenapa orang cerai? KENAPA? That’s because they are not really fall in love at the beginning, Mereka pasti menikah karena sex, dan alasan paling KLISEnya: for AVOID sins. Gosh! It’s silly and stupid!"

Dan gw hampir keselek kacang bangkok (karena gendut banget kacangnya), saat Kanya memegang kedua pipi gw (setengah menampar kalo boleh curhat (T_T)v ) sambil bilang:

"So! My dearly friend, when a man comes to you and ask you for marriage and the reason is to AVOID sin, just leave him right away! Got it?!". Sekali lagi kedua telapak tangan Kanya, berbarengan, menepok pipi gw. Kanan dan kiri. “PLAK!!!”.

Semprul bin sontoloyo. Sakit juga. Tapi gw cuma bisa mengangguk pelan, sambil berusaha menelan pelan-pelan kacang yang hampir masuk ke rongga pernafasan.

Kalo gw nggak sigap, bisa mati keselek guah!

=======================================================================

Kalo jaman dulu, orang menikah memang hanya untuk menyalurkan hasrat yang satu itu (a.k.a = sex). Sex meant pleasure, which humans really crave. Tapi sekarang? Bicara diluar aspek religi, we can have this without marrying.

"Bullshit ngomongin soal menghindari dosa, kalo dibalik itu terselubung niat yang orientasinya cuma bodi, toket, dan seks juga!" Kanya menambahkan kalimat protesnya sambit mengikat rambut-nya yang sedari tadi tergerai lurus.

Sedangkan gw, masih mengupas dan mengunyah kacang-kacang malang itu.

=======================================================================

Menurut Kanya, perempuan mustinya tersinggung, kalo diajak menikah hanya karena akan dijadikan sebagai objek pengeliminasi dosa, iya = D-O-S-A, instead of as a life time partner, or a lover, or a beloved wife, ataupun sebentuk subjek lain (bukan objek) yang setidaknya punya kesempatan juga untuk jadi pemeran aktif dalam suatu kehidupan pernikahan.

Setelah gw pikir-pikir, ya ada benernya juga sih. Alasan menghindari dosa tadi sepertinya bener-bener kekanak-kanakan. Mending tu cowok bilang yang lain gitu, misalnya:

“ayuk nikah, sunnah rosul”
“ayuk nikah, biar kita bisa nyicil rumah bareng”
“ayuk nikah, aku cinta banget sama kamu”
“ayuk nikah, ibuku udah nanyain terus tuh”
“ayuk nikah, tapi di KUA aja ya, miskin nih”
“ayuk nikah, sebelum dilangkahin adek-ku”
“ayuk nikah, sebelum aku dilamar orang”
“ayuk nikah, biar bapakku bisa nimang cucu taun depan”
“ayuk nikah, tapi kamu sabar nungguin aku pulang ya”
(si Dara banget :p)

Gw rasa, akan terasa lebih jujur, lebih plong, lebih apa adanya. Ya nggak?

Versi gw pribadi sih, Pokoknya do NOT let marriage be your social alibi, do it because of love. Manis banget kan gw? Nggak pusing kaya si Kanya. (Hahaha. Digantung gw kalo dia baca tulisan ini).

Tapi tetep bagi gw, ke-uzuran gw akan bertambah parah aja nih. Karena gw percaya jika a person may love you, but avoid marrying you (or anybody else) if they somehow believe life with you will be difficult.

Dan gw merasa, semua cowok akan kesusahan kalo hidup sama gw. Sigh. Mengutip apa kata Caca temen gw, “Cuma begundal gila aja yang berani nikahin elu, com. Hahaha!! ”.

=======================================================================

Baru selese mikar-mikir, gw dapet e-mail dari temen gw:

Aku bingung sekaligus salut sama kamu rum, rupanya kamu masih hobby pegang bola panas yang bergulir kencang, Hahaha..

eh Rum, bertahun tahun, aku memiliki pertanyaan yang belum kudapat jawabannya, Pacar mu siapa sie, atau kamu ga punya pacar? hehehe.. salam deh buat lelaki misterius mu itu.

-Adi-

Sambil gigit-gigit apel fuji ditangan, gw nyengir. Ngikik sendiri, siapa lelaki misterius lagi begundal gila itu ya? Ck ck ck… []

=======================================================================

Buat Dara: Fear is always a constant, by accepting it, it makes you stronger.

‘S-e-v-v-a’. Berkali-kali kening gw berkerut sebelum akhirnya pintu lift terbuka.

"Ding!"

Gw melirik lelaki disebelah gw ini. Tingginya sekitar 182 cm. Bahunya lebar. Matanya besar. Rambutnya mirip Bi Rain (penyanyi ganteng asal Korea itu loh).

Dia yang gw lirik hanya balas melirik, mengernyitkan hidungnya dengan konyol, lalu merubah wajahnya yang (tadinya) serius menjadi sangat kacau, nggak karuan. Setengah terkejut, akhirnya gw nyengir maksa—sama kacaunya.

"Let me allow you…." Cowok ini membungkuk, bergaya bak tentara VOC jaman kolonial dulu.

"O Chris, phhhulease…" gw menggeleng-geleng, taking a long sigh, trus pasang tampang jijay. Melangkah lempeng dan nggak memperdulikan sang tentara kolonial. Sementara sang tentara hanya menggaruk-garuk kepalanya yang jelas nggak gatel itu.

"What did I do? I just want to be polite.." Teriaknya sambil menyusul langkah-langkah gw.

===================================================================================

Gw kenal Chris udah hampir 3 bulanan ini. Tapi karena kami banyak banget punya kesamaan sifat (sama-sama anak tunggal yang rada sableng adalah salah satunya), kami seperti orang yang sudah kenal bertaun-taun gitu. Ditambah, sebenernya, Mamaknya si Chris ini emang asli orang Indonesia. Hahaha. Produk Blasteran.

Princes Building, lantai 25. Hm, dari atas sini, gw bisa liat antena Wi-Fi yang dikerjain (atau lebih tepatnya ngerjain) Zikhry mati-matian (di Statue Square, taman persis disebelah gedung ini) secara jelas banget.

"Do you know that many of the stars that we romantically gaze at the night sky are already long gone? Actually we only enjoying its rays that expired a million years ago". Chris memandang langit gelap itu. Tanpa henti.

"I beg your pardon?", gw menatap Chris serius.

"Nope, nothing." Chris menjawab pasti.

Gw nggak lanjut bertanya. Gw berusaha mengerti kalau saat itu Chris nggak mau diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan simple yang diapun nggak tau bagaimana menjelaskannya.

===================================================================================

Sebenernya gw ngerti, Chris lagi berusaha ngehibur gw, karena beberapa hari yang lalu, gw cerita ke dia, kalo salah satu mantan gw, is getting married.

Dan gw sedih, sedih bukan karena ditinggal kawin, tapi sedih karena untuk beberapa saat kemaren, banyak banget hal di kehidupan gw yang berubah secara drastis. Dan sepertinya gw merasa kalo gw nggak siap untuk ngadepin semua perubahan itu. Gw ngerasa takut aja ama masa depan gw.

Dan dari situ Chris banyak cerita, ngasih pandangan ke gw. Dan gw ngerasa, dia tuh bener banget. Yeah, untuk usianya yang cuma terpaut satu tahun diatas gw, ‘ni anak were totally.. wise.

===================================================================================

Human always afraid of the “unknown (sesuatu yang kita nggak tau pasti apa dan bagaimana itu). Dan secara nggak sadar, kita selalu terus mencari konfirmasi atas ketidaktahuan itu. Why? Ya untuk bersiap-siap atas kemungkinan terburuk lah. Karena kita sebagai manusia normal, selalu nggak mau kedapetan hal jelek, must been always delightful things, no room for sorrow!

Dari diskusi bersama Chris, gw mengetahui bahwa: fearlessness is generated when you can appreciate uncertainty. When you have faith in the impossibility of these interconnected components remaining static and permanent, you will find your self, in a very true sense, preparing for the worst while allowing for the best.

Maksutnya gini, lo nggak bakalan ngerasa takut akan apapun, jika lo mampu mengerti bahwa semua itu emang sudah diatur. How? Ya dengan memahami jika ada sesuatu yang telah nunggu lo dibalik "tikungan". Bahwa no matter what, mau kita hindari atau nggak, sesuatu itu akan tetap disana, dibalik tikungan itu.

Dengan menerima, TANPA memperhitungkan atau mencoba menerka bahwa sesuatu kejadian itu bakal terjadi atau nggak, itu akan membuat lo memiliki suatu pervasive awareness (gw artikan simple: perasaan nyantai coy), sehingga lo mampu merasa biasa aja terhadap apapun yang bakal terjadi dalam hidup lo, mao masalah nggak penting sampe masalah yang paling berat sekalipun. Why? Karena emang harus begitu kok. Bahasa Jermannya: Yo wis, nrimo ae. Jalanin aja, brur.

Gw inget-inget, bokap gw juga pernah ceramah tentang hal serupa. Bokap kalo nggak salah menyebutnya: perihal beriman kepada takdir.

"So, there’s no reason to have fear for the future, because you begin to know, the things are not entirely under your control and never will be, so there’s no expectation for things to go according to your hopes and fears." Chris menjelaskan sambil menunjuk muka gw setiap kali mengucap kata ‘you’.

Tuhan emang Maha Pemberi Rahmat dan Kebaikan tiada tara. Gila man! Gw dapet ilmu beginian bahkan bukan dari seorang kiayi, bukan ustad, bukan muslim pulak.

Yaa Allah, Tuhanku, you are so cool.

===================================================================================

Lalu apa kabar dengan “berusaha dan berikhtiar” dong?

In my sober mind (diartikan: waras—semoga juga bijak), ini semua berkorelasi kok. Gw bisa kasih contoh cerita dari Bokap tentang kisah si Mimin.

Sementara temen-temennya pada nyari gaji milyaran rupiah, Mimin begitu terhanyut dalam upayanya menghayati dan menjalani proses kerja sehari-hari dengan penuh nikmat dan rasa syukur, intinya Mimin percaya jika “sesuatu” telah menunggunya ditikungan situ. Perihal entah itu baik atau buruk, Mimin nggak perduli. Pokoknya Mimin pasrah aja, dijalaninya bait demi bait kehidupan dengan penuh rasa ikhlas sambil berserah diri serta menerima seburuk apapun takdir yang akan datang menyapanya.

Lalu ternyata, akibat kepasrahan dan kerja kerasnya, lama-lama, Mimin secara nggak sengaja punya gaji yang jauuuh diatas orang-orang kebanyakan. So? Mimin terpaksa kaya deh. Iya, T-E-R-P-A-K-S-A, karena niat awal Mimin sebenernya bukan untuk kaya.

Inilah wujud kerja keras yang dibumbui dengan keimanan dan kepasrahan.

Perlu ditekankan, kerja keras yang dilandasi dengan sikap PASRAH, lain dengan kerja keras karena ngangsa (cari di wikipedia, kalo kaga ngerti artinya. Soalnya, bahasa jawa kuno nih :p).

Kerja ngangsa dilandasi keinginan akan hasil besar secara kongkrit dibelakangan hari. Dengan kata lain, ada target. YANG kalau target tersebut tidak tercapai maka akan membuat kecewa.

NAH! Just capture its intencity, feel it. You feel it like I do, don’t u?

Yah, semoga, with fearlessness, you will find yourself then you become dignified and majestic. Coz, this qualities are the very secret ingredient to enhance your ability to do work, wage war, make peace, create a good family, and enjoy love and personal relationships. Ayo, Kawan! yang semangaaaat! []

===================================================================================

Some fall from grace because they are smoke but don’t inhale.

..rasa yang melemahkan..

Kalo lagi miskin, gw biasa main CS (counter strike) bersenjatakan AK 47 made in Rusia. Entahlah, begitu kangennya gw ama senjata bergagang coklat itu sekarang. Rasanya pengen gw kokang, gw isi full dan gw tumpahkan isinya tepat ke jidat seseorang.

Atau supaya lebih sadis, pake gaya Chaca, temen gw, yang suka belagu kalo maen CS (mentang-mentang jago), bunuh musuh nggak pake senjata api, tapi pake pisau

Rasanya lebih puas, lebih berdarah, lebih mak crot, lebih membunuh, dan kemenangannya lebih bereuforia dan menggema bak Jihad ala King Leonidas, yang diawali dalam kalimat: "..for tonight, we dine in hell..!!".

(Oo believe me, saat itu yang dibunuh pun jadi keki setengah mati. Makanya game CS ini nggak cocok buat adek-adek yang masih megang rapot, okeh?).

=============================================================================================

Gw adalah tipikal orang yang nggak bisa dikritik secara frontal. Kecuali, pertama, gw bener-bener salah, atau kedua, gw dikritik oleh orang-orang yang memang gw izinkan, gw bolehkan, serta gw anggap sah! dalam urusan mengomentari gw. Tapi kalo nama dia nggak ada didalam list, bah! Ni orang sedikitnya udah kena (invisible) marking dari gw. (Ya pastinya, marking ini juga bisa berubah sih sesuai situasi dan kondisi).

Marking disini bukan berarti gw mendendam, atau berhasrat (du’ilah: H-A-S-R-A-T) ingin membalas. (Sumpah! ini bukan defencing statement ataupun usaha gw untuk berapologi dan mbagus-mbagusi diri gw sendiri). Cuma nandain: CTA – Cukup Tau Aje…”

=============================================================================================

"Masya Alloh!". Kalimat itu doang dari tadi, yang menenangkan gw untuk nggak inget-inget AK47 ataupun hand grenade. Well, sebenere memang nggak hanya hari ini aja sih, gw mengalami tindakan diskriminatip (sengaja pake p), rasialis, dan (arrghh..) fitnahisasi dinegara tirai bambu coret ini. Tapi entahlah, mungkin kali ini rodo/agak lumayan menyayat hati. Terjadi di kantor pulak. Dimana bagi gw, kantor merupakan tempat teraman nomor tiga setelah Masjid dan kosan gw.

"Ah, mungkin kamu cuma lagi kangen rumah." Pasti pada bilang gitu. Whatever.

=============================================================================================

Jadi begini ceritanya lho: Gw baru aja bikin kesalahan, salah nulis IP address. Kesalahan itu sebenere cuma kesalahan redaksional dan nggak ngaruh ke network, apalagi sampe bikin outage (bukan mbelani, lho). Availability-nya masih mulus dan cantik: stabil diangka 100%. Ya, namun, bagimanapun sepelenya, ternyata kesalahan imut-imut itu lumayan bikin heboh orang sekampung sini.

NAH! parahnya, sang otak kejahatan bukan-lah gw, melainkan orang lain yang berlaku sangat MONYONG dan tidak gentlemen (Kata Bang Maurice, suruh pake rok ama lipstik, tambahan: lipstiknya yang murah aja!).

Sebut saja Suneo.

William, boss yang sangat wise dan berlaku adil itu, sebenernya belain gw (asik!) soalnya gw cuma ngerubah data sesuai order yang dikasih Suneo. Tapi masalahnya, setelah semua orang, dalam balutan aura dan background hitam, nunjuk ke gw as if: "Arum, you are so damn guilty!". Ctaar! petir-petir lalu memekik kejam.

Si Suneo, entah kenapa, jadi ikut-ikut berdiri bersama mereka, lalu ngipasi dan ngompori (sambil joget-joget dan tetabuhan): "Yes, she did it! She’s THE ONLY ONE who can do it! She got the access. YES!! She definitely did it!! It’s impossible for somebody else doing it! Yeah! huhuy!".

(T____T) … JAH! Makan Pare. Pait.

=============================================================================================

Sekarang lo semua paham kan, betapa gw pengen nyumpel granat di mulutnya Suneo??? (Tapi, tenang aja, William sang boss udah gw tunjukkin imel-imel by-pass-annya Suneo. Rasakan jurus "Kame kame ha" guah Suneooh!)

Yah, bagi guah, gw mengakui sih bahwa segala keributan dan kebobrokan tadi, memang salah gw juga.

=============================================================================================

Ah, gw jadi ingat sesuatu. (Dereng deng kwak kwaow, flashback). Kata pak kiayi di pengajian, jika ada orang, MALAS untuk mengenali dirinya sendiri, maka agak mustahil jika dia memiliki kemampuan untuk mendiagnosis apa penyakit yang sedang dideritanya.

NAH, kalau kita tidak punya diagnosis yang tepat terhadap apa yang kita derita, mustahil pula kita akan bisa menyembuhkan diri dari segala penyakit. Waduw!

Hm, salah satu penyakit gw sebenarnya adalah kurang tatag dan kurang sabar. Karena abis kejadian itu, bawaan gw jadi sedih, pengen pulang, lantas mellow.

Harusnya gw mampu untuk menghadapinya sendiri. Tanpa harus berembel-embel perasaan lemah dan manja kayak gini. Lha wong baru masalah sepele gini aja kok, tiba-tiba rasanya sepertinya meriang tujuh hari tujuh malam. Badan panas dingin, lalu malas ngapa-ngapain.   

Kayaknya, gw perlu mengantisipasi dan mendiagnosa lebih dalam tentang penyakit-penyakit gw ini. Mungkin, gw kemarin, masih (baru) terlalu sibuk meneliti, tanpa punya keinginan untuk mengilhami. (Ah, basi, kapan dewasanya dong?! - kapan-kapan lah).[]   

=============================================================================================

Izinkanku untuk mampu, wahai Tuhanku, Tuhan yang maha memuliakan..

====================================================================

Gw: Din masa AC gw nyala sendiri
Dina: Masa sih?
Gw: Iyak, padahal kabel powernya mati, serem dah

Dina: Otomatis kali
Gw: Otomatis gimana?

Dina: Otomatis bikin lu takut

====================================================================

Gw: Gosh! you are crazy..!
Riki: I am not crazy (nyengir sambil ngelepas tangan dari stir)
Gw: See?! You are crazy, how about if there’s a motorcycle on your right! (panik)

Riki: (Nyengir) But do not call me crazy
Gw: you just incidently turn the wheels like that, how am I suppose to call you but crazy?!

Riki: *ngakak*
Gw: (T____T) …….. (d4mn..)

====================================================================

Sherko: Ayumm.. lagi kerja.?
Gw: Nggak, ini lagi makan kacang, kaya monyet bonbin

====================================================================

Zikhry: Hallo?? (on phone)
Gw: Oy nape zik?

Zikhry: Gw cuma mao lapor aja
Gw: lapor paan?

Zikhry: gw baru liat TKW ciuman ama orang Pakistan, digelap-gelapan, di grepe-grepe, hot banget dah!
Gw: TRUS MAKSUT LO?!

Zikhry: hehehe nggak papa sih, gw jadi inget lu aja..
Gw: Arrgghh
$@#$!%!

====================================================================

Gw: Nir, Kunir, kalo udah kurus, lo mah enak, kawin ama Dodi, lah gw pegimane?
Kunir: Sabodo! ya iyalah gw kawin ama Dodi, masa iyeh gw kawinnya ama elo? ntar kaga ada yang kondangan!

====================================================================

Heru: Kalo kamu datang kesini, mesti kaget yum
Gw: Kok kaget? lapo?

Heru: Soale gimana ya, aku nduwe patner kerja ghak enek seng pinter, pandangannya sempit
Gw: Sempit piye?

Heru: Ya gitu deh, nek saingan gak pake basa basi seperti iklan di tipi. Nek pengin ngomong "anjing!" ya blak-blakan ngomong "anjing!". Gak pake basa basi: "Maaf mas, kamu kaya anjing deh"
Gw: *Ngakak!*

====================================================================

aLdiNo: Katanya lo lagi jauh??
Gw: jauh apanya?

aLdiNo: Di hongkong
Gw: Ah kata siapa

====================================================================

Gw: Anjrit zik, lo kagak liat noh gebetan lo, kathy cheung, syeksih (sexy) banget!
Zikhry: (Tersepona) iyahh… kayak desi bebek ya? (analogi yang aneh)
Gw: tapi lo liat dong sepatunya, bajunya sih sophisticated, mini dress biru dongker, kebuka-buka gitu, tapi sepatunya ijo stabillo, mengkilat lagi. Kagak matching.. hahaha!

Zikhry: kok lo gitu sih? ya lo kasih tau dong ke dia..
Gw: maksutnya?

Zikhry: kan sister-hood..
Gw: ??? *bingung*

====================================================================

Ideh: mas ilham tuh malu-malu
Zikhry: yoi, ideh my man..
Ideh: tau gak? knp dy pilih kerjaan di KL? biar gk kalah ma mbak iyum. Malu lah kalo mau ngelamar mbak iyum. Setidaknya harus sama-sama overseas. Demi masa depan…
Joseph: bener tuh deh
Zikhry: tau… bener banget!
Gw: Anjrit, 3 lawan satu nih, kaga imbang..!

====================================================================

Davis: mba arum msih di tokyo..??
Gw: tokyo?! new york!

Davis: hah..?? yg bner..?? cepet amat pindahnya…

====================================================================

Dinot: batuk gw kaga sembuh2 nih, sebel banget
Gw: beli dondong

Dinot: udah beli duren, skalian sewa abang nya buat nyuapin, gw kan manja
Gw: najes loh..

====================================================================

Mas irwan: kamu belum tidur…?
Gw: masih upload poto ke foto blog

Mas irwan: mentang2 kamera baru.. poto2 mulu yaa… hehe
Gw: tau aja kamuh

Mas irwan: iya donk….

====================================================================

Klentheng: Airline apa yach yg murah, yum?
Gw: AS airlines

Klentheng: Apaan tuh?
Gw: AS airways, masa lo kagak pernah denger?

Klentheng: Gak tuh, AS, apaan?
Gw: Asal Slamet..

====================================================================

Gw: Apa kabar cowok lo yang ganteng itu yes?
Yesi: Ade sekarang gak ganteng lagi
Gw: Jah! masa iye, bisa si Ade nggak ganteng lagi???

Yesi: Iya, nggak ganteng, tapi jadi ganteng banget.. :p

====================================================================

BuBoss: Fotomu gaya tenan … Kayak anggota dewan gitu?
Gw: Mirip Halimah, pas sidang cerai.. *blushing*

BuBoss: Haha, itu sunglasses kalo dah bosen bolehlah dilungsurno ke aku
Gw: Nggak ah, belinya nggak makan seminggu nih. Lagian Boss, nanti anakmu gizi buruk loh, kalo ikut2 beli kacamata ksatria baja hitam gini..

BuBoss: He’eh bisa malnutrisi dan under-developed. Kesian.. Mendingan mbeli macbook buat anakku..
Gw: *hahaha lebih parah belanjanya*

====================================================================

Adit&Didi: Mba klo pulang bawain oleh2 dong mba
Gw: Oleh2? tapi oleh2nya terserah mbak arum ya?

Adit&Didi: Awas lo mba klo boong……
Gw: Nggak kok, ntar dibawain ubur-ubur

Adit: Bener ya?
Gw: Iya.. ubur-ubur beracun, buat didi juga, sekalian

====================================================================

Pakde loram: silly n rainy face ki sing kepiye ndukk
Gw: mbuh sih, pakdhe, durung ketemu..

Pakde loram: walah

====================================================================

Mas bambang: Wooooiiiiii TKI hongkong
Gw: Sembarangan mulutnyah

Mas bambang: Bersihin apartemen yg bener donk………
Gw: Asem luh, kok tau gw lagi beres2?

Mas bambang: Ya iyalah, TKI kan kerjanya nyapu ngepel bersih2…
Gw: enak aja, pembokat disini mah jago ngeceng juga, plus JJS - jalan-jalan sore, n nggebet cowok Pakistan

====================================================================

Gw: nih gw kasih web bagus buat poto prewed lu www.axioo.com

(beberapa saat kemudian..)

Dee: Web pre-wed ini jadi rujukan gw banget, kerenn!!
Gw: sujud lo ama guah *sombooong*

Dee: =)) *peperin upil*
Gw: kyaaaaaaaaaaa *lari*

Dee: *kentutin yang jangkauan nya jauh*
Gw: buset, lemes… *kaga bisa menghindar*

Dee: =))

====================================================================

Gw: Akan semakin nggak nyambung kamu chat sama aku kalo kamu nggak bisa "apa adanya"
Mas Anto: Kmu beruntung jauh dari aku, klo deket, udah tak samperin, tak cium! gemes!
Gw: weh, masya alloh, harom! harom! harom!

====================================================================

Gw: Taka, udahan dulu ya chat nya, mau mandi nih
Taka: Pasti lama..
Gw: lama? lama gimana?

Taka: Iya, kan kamu luas..
Gw: Asem…[]

====================================================================

..The conversation - part 7..

..The Broken Up..

====================================================================

Kezzie: Do u feel offended ‘bcoz your close friend might be like that? maybe that woman without veil, or else, act lousy and cause u to defence them??

Gw: No, you are now asking some stupid question.. I really don’t understand what are you saying, now. I said before, you mistreated me, Kez, please lets don’t start it, I’m tired keep arguing like this..

Kezzie: Aahh, but your word is about that

Gw: What words?

Kezzie: I open skype now! what mean “boyz got no brain??”

Gw: O C’mon, that’s not for you, it’s for my friend..

Kezzie: thats your typical style! You always like this!

Gw: Okay that’s it! You keep pointing at me! I’m done with this, babe..

Kezzie: Gosh! You always react before have enough explanation from me!

Gw: But you did not giving me enough explanation!

Kezzie: The trigger?? Geez, trigger would be different with exlanation!

Gw: Would.. you.. please.. just.. stop it?! I’m tired of arguing!

Kezzie: Then?

Gw: Then what?! Gosh!

====================================================================

Intinya, jangan sekali-kali menyelesaikan masalah pas lo lagi marah. Itu aja sih.[]

====================================================================

Kids, lets not try this at home!

"Tek.. Tek.. Tek.."

Tanpa suara, pria tuna netra itu terdiam dibawah derasnya hujan.

"Tek.. Tek.. Tek.."

Pria tuna netra yang sama masih tediam disamping lampu persimpangan jalan.

Sementara didepan pria itu, kendaraan besar dari pelabuhan tersibuk kota Kowloon, berlalu lalang dengan kejam. Menimbulkan sedikit getaran dan deburan angin bercampur air yang tanpa ampun melayang-layang kencang pada wajah pria itu.

Namun dia tetap tenang.

"treketrek-treketrek-treketrek-treketrek"

Bunyi bit ketukan yang berasal dari lampu persimpangan itu menjadi semakin cepat. Dan pria tuna netra itu (masih dibawah curahan hujan dan tentunya terpejam) melangkahkan kakinya kedepan, tak patah arang.

Sedang kendaraan besar yang sedari tadi dengan sombongnya berlalu lalang seolah tunduk pada pria itu dan membiarkannya lewat secara aman, sampai di ujung jalan.

=====================================================================

6:00 pm. After-work Hour.

"0" Gadis ini memencet tombol ditembok lift. Orang-orang yang tiba-tiba muncul lalu saling berdesakkan dan memasuki lift yang sama, gadis itu tanpa ekspresi menahan tombol "door open" hingga akhirnya semua orang lengkap memasuki lift yang irit dan sempit ini.

"12-11-10-9" Gadis itu memegangi tas coklatnya dengan erat. Kali ini dia tertunduk. Diusap-usap bahunya yang kecil, berharap segala lelah dan penatnya hari itu dapat hilang jika diusap-usap pelan seperti itu.

"4-3-2-1" Gadis yang sama mendongak, memperhatikan gerak lampu seven-segment yang terpanjang didalam lift.

"Ding". Ground Floor. Pintu Lift membuka. Kembali gadis itu menahan tombol "door open". Sama. Tanpa ekspresi. Lalu sekelebatan, melirik orang-orang berebut keluar dari lift.

Setelah dirasa kosong. Dilepaskan jarinya yang lentik dan mungil dari tombol "door open". Lalu dipijitnya angka terbesar pada deretan angka-angka penunjuk di dinding lift itu. "13". Lalu Gadis itu beranjak keluar.

Pintu lift menutup dan melaju ke lantai 13. 

=====================================================================

Wanita ini memakai blouse satin putih, dengan rok remple hitam berantai emas dipinggang. sungguh terlihat elegan. rambutnya panjang agak kelabu melewati bahu. Mata sipitnya samar terlihat karena dia membubuhkan eye-liner gelap.

Ditangannya teruntai gelang sewarna bumi yang sangat mencolok diatas kulitnya yang putih dan licin. Kukunya dihias sedemikian rupa. Sangat cantik. Jika dia melambaikan tangan sedikit saja, tak diragukan, setiap lelaki didepan situ, dijamin pingsan karena kecantikannya.

However, segala pandangan elegan, sophisticated, high-class, tak tersentuh, serta angkuh, seketika itu runtuh dipikiran gw. Dimana dengan tanpa merasa hina, melalui jemari ningratnya, wanita ini membantu mengangkat troli seorang tua yang sedang kesulitan menaiki tangga. Bahkan, troli itu kotor, besinya coklat dan berkarat lagi lembab. Ternganga, gw beku dan terpaku.

=====================================================================

Tiga kebaikan diatas, adalah kebaikan sederhana yang sangat samar (jarang diperdulikan) yang dilakukan oleh pelaku kehidupan yang juga samar (yang sama sekali tak perduli, apakah ada orang lain yang akan sadar atas kebaikan yang baru saja mereka perbuat).

Kebaikan pertama dilakukan oleh pemerintah juga komunitas sekitar yang perduli oleh para tuna netra (disini mereka bahkan bukan disebut sebagai “blind man” melainkan “person with visionary incapability”). Sehingga lampu merah dibuat mengeluarkan bunyi-bunyian, dimana bit pelan untuk menunggu, bit cepat untuk menyebrang. Fantastic.

Kebaikan kedua dilakukan oleh seorang gadis biasa. Tujuannya, mengembalikan lift ke lantai paling atas, supaya teman-temannya yang ingin juga segera pulang, tidak terlalu lama menunggu lift. Luar biasa.

Kebaikan ketiga dilakukan oleh sang wanita ningrat yang bisa gw bilang, nggak mungkin deh ada “wanita ningrat” di Jakarta yang mampu melakukan hal yang sama seperti itu. (Bahkan edannya lagi, si wanita ningrat ini sempet-sempetnya membungkuk-dalam kepada orang tua tadi ketika orang tua itu mengucapkan terima kasih). Amazing!

=====================================================================

Bokap gw pernah bilang, bahwa yang dimaksud dengan sholeh itu adalah segala kebaikan, kebenaran dan ibadah yang bisa diaplikasikan langsung ke publik sehingga manfaatnya dapat dirasakan untuk kebersamaan.

Jadi, jika kamu beribadah sendiri, itu baik. Tapi lebih baik lagi jika kamu mengamalkannya sehingga kamu dapat berguna untuk orang lain. Dan akan sangat baik sekali jika dilakukan tanpa disadari oleh orang lain. Kurang lebih begitu. (waow, sulit).

Nah, gw baru menyaksikan sebagian kecil “kesalehan” itu dengan mata kepala gw sendiri. Dan perasaan yang gw rasakan saat itu sebenarnya malah bukanlah sesuatu hal yang terasa bungah ataupun excited.

Kebalikannya, gw merasa kalo gw benar-benar sedih. Gw malu. Gw seolah terbantahkan. Gw bagai terlempar tak berguna ke sudut paling gelap dan sepi. Karena gw nggak merasa pernah melakukan kebaikan sederhana namun bermakna seperti itu.

=====================================================================

Gw terbiasa hidup dalam komunitas yang memerlukan kehinaan saudaranya sendiri untuk mendapatkan kejayaan. Yang juga membutuhkan kehancuran sesama manusia didalamnya untuk memperoleh sesuatu yang kami kira: kehormatan.

Sehingga apapun bentuk kebaikan yang terwujud adalah bukan merupakan suatu kebaikan murni tersembunyi yang terasa begitu indah dan menyejukkan seperti tadi.

Mengutip kata Cak Nun: di Indonesia, “kebaikan” sukar berdiri sendiri dan murni sebagai kebaikan itu sendiri. Kebaikan selalu “dalam rangka”, “dalam pamrih”, “dalam niat-niat” lain yang tersembunyi, yang belum tentu bersifat baik.

=====================================================================

(sigh…..) Sangat sedikit orang-orang di Indonesia yang mampu mengimplementasikan wujud keimanan dan kesalehan dalam kehidupan sehari-hari.

Kerongkoangan gw tercekat, semakin tercekat. Gw nggak perduli lagi gw ada dimana. Rasa malu ini sungguh menyesakkan dada. Memekakkan telinga. Melemaskan tenaga.

Hujan semakin deras dan keras. Segala istigfar dan airmata gw ikut terbawa bulir-bulir air yang entah datang darimana. Air itu mungkin kepanjangan tangan dari langit, well, bisa jadi milik malaikat yang mengasihani gw saat itu. Ah, maafkan, maafkan hamba yang khilaf dari segala kebesaran-Mu, Tuhan.[]

=====================================================================

Yes, saying it out loud doesn’t always make it right.

..sebuah penerimaan..

Gw melirik ponsel kelabu yang telah setia bersama gw selama 2 tahun ini. Tertera disana: “Frederic Chopin prelude in E minor”. Alunan piano dari original sountrack film The Pianist ini kerasa pilu banget di dada. Bahkan angin sore yang silir semilir nggak mampu memalingkan gw dari derasnya rasa prihatin gw saat ini.

Temen kantor gw, Slinky Li, pernah bilang ke gw: “The only thing you can do to a dissaster is acceptance”. Menurut gw, filosofi hidup yang kayak gini nggak maen-maen. Ah, atau lebih tepatnya, gw aja yang terlalu oncom, mengada-ada untuk menggali lebih dalam tentang arti sebuah “acceptance”, acceptance terhadap kesalahan ataupun kebenaran yang berlalu lalang didepan mata kita.

Memang pada dasarnya, salah dan benar itu bukan milik kita. Kita hanya meminjam sebuah kebenaran dari Sang Pencipta. Dan saat kita melakukan kesalahan, itu hanya sekedar pertanda bahwa kita terlalu jauh dari-Nya.

==============================================================================

Adalah seorang gadis, let’s call her: Monica. Gw kenal Monica bahkan jauh sebelum kami mengerti arti cinta dan laki-laki. Mungkin 20 tahun lalu. Monica pernah mengalami moment yang luar biasa berat, karena satu-satunya lelaki yang selalu memenuhi seluruh ruang mimpi dan bilik kenyataan hidupnya, melangsungkan pernikahan dengan wanita lain.

Well, sepertinya bagi gw, ini hanya kisah cinta biasa yang bisa aja terjadi dalam kehidupan setiap orang. Bukan hanya Monica, bahkan gw pun pernah mengalami hal serupa. So there’s nothing special about it, right?.

Wrong…..!

==============================================================================

"Eh Ting (Monica selalu manggil gw: keriting), eh tau ga? Aku lagi di rooftop, kalo mao, aku bisa aja terjun bebas dari sini. You know, after all, pernikahan Baskoro, really a knife in my heart."

Monica menghisap rokoknya dalam-dalam.

"Tapi, itu sama aja aku memberi ruang kebenaran atas kesalahan yang dulu aku perbuat. Kamu tau, Ting? Ngga ada yang salah dalam kehidupan ini. Yang keliru adalah ketika kita menyikapi segala sesuatu dengan tidak memperhitungkan akibat dari pilihan sikap kita."

Monica menghela nafas.

"Waktu itu aku memilih untuk nggak memperjuangkan cintaku ke Baskoro. Karena, aku kira, dengan membiarkan semuanya mengalir, Sang waktu toh akan membuat Baskoro kembali ke aku. Ternyata, aku nggak nyangka, endingnya meleset sejauh ini."

Monica menutup perbincangan kami. Tanpa kata-kata pemanis, terasa dingin dan sadis.

==============================================================================

Monica yang secantik dan seanggun Dewi Jahnawi dari Jonggring Saloka, bisa saja menunjuk ataupun memilih secara acak a very high quality man dari segala penjuru jagad. Tapi entahlah, tampaknya memang harus ada orang-orang tertentu yang ditakdirkan memiliki kisah cinta yang complicated dan berujung tragis.

Monica selalu mencintai pria ini, seorang pria biasa, dengan kepintaran diatas rata-rata. Modal ketampanan pas-pasan dan postur yang slightly bersahaja. Ya, dia Baskoro. Waktu SMA adalah kali terakhir Monica bisa duduk berdua dengan Baskoro. Tertawa bahagia dibawah pohon akasia. Saat itu mereka tak membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan cinta. Ya! hanya tertawa dan berbahagia dibawah pohon akasia. Bahkan mungkin, Monica terlalu sibuk menikmati setiap inci smiling curve dan mata bening Baskoro.

Bertahun-tahun selama gw mengenal Monica dan semua pacar-pacar perfecto-nya, tetaplah, selalu ada “Baskoro”. Kata emak gw, first love never die. Tapi, Monica selalu protes kalo gw bilang Baskoro itu first love dia.

Monica selalu bersikap tegar, dia tak ingin lagi menggali perasaan yang sudah begitu teguh untuk menjadikannya merapuh kembali. Tapi sering kali, gw menemukan Monica terpagut begitu lama, memandangi kerlip bintang.

Mungkin dia mencoba dengan sangat keras, untuk mengingat dan mencari smiling curve dan mata bening milik Baskoro disana, sambil sesekali berbisik lirih “I wanna kiss you underneath these stars..” Seolah Monica ingin malam menyampaikan lirih kerinduannya kepada Baskoro.

==============================================================================

Kadang kala, Monica pergi menemui Baskoro, frekuensinya pun nggak setahun sekali, tapi mereka bertemu. Dua jam, dalam hening, memandangi layar bioskop yang Monica nggak ngerti isi cerita film yang diputar, karena terlalu sibuk menggali perasaan yang mengalir hangat dalam nadinya. Sibuk menghirup lamat udara beku yang juga dihirup Baskoro. Sibuk menyimpan tiap detik berharga bersama Baskoro dalam setiap laci hatinya.

Setelah pertemuannya dengan Baskoro, anehnya, Monica malah selalu tampak lelah, pancaran sendu matanya seolah berkata, “Ah, hidup memang berat ataukah aku yang tak cukup kuat?”.

But I know, that’s just a retarded question. Dalam hati, gw mengagumi Monica.

==============================================================================

Gw nggak nyangka ada makhluk macam Monica yang dapat menyelami arti mencintai lalu mampu memanggul beban cinta yang sebegitu beratnya dengan pasrah. Gw sendiri hingga saat ini, yakin, Monica nggak pernah menitikkan air mata barang setetespun atas pernikahan Baskoro. Walaupun pada kenyataannya, pernikahan Baskoro bagai racun mematikan yang meremas hatinya hingga luluh lantak. 

Kehidupan bagi Monica tak lain adalah sebuah pengabdian, pengabdian kepada janji, pengabdian kepada keluarga, pengabdian kepada kerabat, pengabdian kepada kebenaran yang dipegang, pengabdian kepada kehidupan, pengabdian kepada sang pencipta. Juga.. pengabdian kepada cinta.

Pengabdian cinta Monica kepada Baskoro.

==============================================================================

Monica paham, bahwa takdir Tuhan banyak diganjal oleh ‘takdir kuasa manusia’. Tapi Monica memutuskan untuk menggantungkan diri pada Tuhan saja. Monica bersedia menanggung derita cintanya, asalkan dia rasakan itu memang kehendak Tuhan.

Walau dengan hati hancur, gw tau, Monica berhasil lulus dalam ujian kesabaran yang dihadiahkan Tuhan kepadanya. Monica berhasil lolos dalam ujian “acceptance” yang diberikan kepadanya. Gimanapun, kekayaan diri adalah bukan apa yang dapat kita miliki, tetapi adalah bagaimana kita dapat menjadi apa adanya sebaik-baik diri kita. Dan jangan pernah lupa satu hal, Gusti Allah mboten sare.

Plus, Tuhan itu maha adil.

==============================================================================

Ting!
Kapan pulang?
Kamu sehat disana?

kemarin aku main kerumahmu,
dan hebatnya, kamu nggak punya pohon mangga lagi tuh,
hahaha, pohon manggamu ditebang habis sama si Om.

Aku mau ngasih tau, aku mau nujuh bulanan minggu depan,
Si Woro udah nggak sabar pengen adiknya ini cepet brojol.
Cowok lho, Ting. Kamu pasti seneng banget.

Ting, aku mau menamainya Baskoro.

BR,
Monica

==============================================================================

Yups! Tuhan itu adil: only those who dare to fail greatly can ever achieve greatly. Monica telah menikah dengan seorang laki-laki, bukan Baskoro. Monica sangat mencintai laki-laki ini dan juga anak-anak mereka.

Tapi walaupun begitu, sepenggalan cintanya kepada Baskoro nggak pernah mati. Bak kisah cinta Bisma Dewabrata kepada Dewi Amba. Sepenggal cinta itulah yang disimpan Monica untuk Baskoro, mungkin Monica berharap, dikehidupan berikutnya, Baskoro adalah miliknya. Karena penerimaan itulah, Monica akhirnya melepaskan Baskoro.

Kisah hidup Monica juga ibarat video clip youtube kiriman Zuber, temen lama gw. Kalo nggak salah video clip itu milik Keroncong Chaos, judul lagunya: Kuburan Cinta. Model video clipnya, walaupun nggak secantik Monica, tetaplah spektakuler. Inti videonya ada seorang pemuda yang ditinggal kawin oleh model spekta tadi, lalu pemuda itu memutuskan mau mengakhiri hidupnya dengan cara nyebur sumur. Tapi nggak jadi, eh malah pemuda itu ambil wudhu. Video klip selesai.

==============================================================================

Gw jadi ingat seseorang. Seseorang yang selalu ada disetiap langkah perjalanan hidup gw. Namanya adalah satu-satunya nama laki-laki yang berani gw sebut dan gw ceritakan ke nyokap-bokap gw. For these whole years, nama yang sama, selalu nama yang sama. Tapi, gw cuman mingkem, manyun lantas masuk kamar kalo bokap gw nanya: ”Kapan dong dia diajak main ke rumah?”.

Karena gw selalu tau, laki-laki ini nggak pernah mencintai gw. Ironisnya, mungkin dia menikah tahun ini, dan bukan sama gw pastinya. Haha.

Gw tertawa! Ya, gw masih mampu tertawa! Gw harus mampu belajar menertawakan diri gw, karena kata pak ustad di pengajian: makin tinggi kemampuan seseorang dalam menertawakan dirinya sendiri, maka akan semakin meningkat pula kebesaran jiwa mereka. Semakin luas pengetahuan seseorang atas kedunguan-kedunguannya sendiri, semakin matang dan tegar kepribadiannya. Dan gw berharap, gw bisa begitu.

==============================================================================

Mirip Monica, pada malam yang legam, kelam, dan hanya ditemani sepenggalan sinar bulan, gw sempat juga terpagut lama memandangi kerlip gemintang.

Lalu mencoba juga dengan sangat keras, untuk mengingat dan mencari wajah lelaki itu disana.[]

==============================================================================

Him, the only man with his silly and rainy face.

FS Shout out gw:
“Saya memang Islam, tapi saya tidak berkewajiban untuk menuruti budaya Arab..”

=======================================================================================

Comment 1 (From Mas Klenth):
Betul Yum, Islam itu bukan Arab, Arab belum tentu Islam. Sudah saatnya Islam yang baik dan moderat berteriak dan bersuara lantang sebelum nama Islam dibajak orang-orang yg tidak bertanggung jawab dan sama sekali tidak mencerminkan kedamaian dan kesejukan, tidak mencerminkan Rahmatan Lil Alamin.

Ini mungkin kesempatan emas Indonesia dgn Islam kulturalnya justru utk tampil sebagai alternatif pemahaman Islam di dunia. Jadi dunia tau Islam itu bukan cuma Arab yg menindas wanita atau seperti yg di videonya Wilder, tapi tengoklah Islam kultural di Indonesia, dimana hak asasi manusia dihargai, kemajemukan dihormati, damai dan sejuk. 

Gw reply back:
Mas, kebenaran tak pernah akan lahir dari tindakan emosional. Kebenaran akan selalu datang dari kearifan. Seperti katamu: "keimanan yang nyata akan membawa kita kepada sebuah perenungan yang dalam, bukan kepada kepastian yang gampang".

Lagian gw nggak pusing kok, gimanapun, tindakan keagamaan itu HARUS identik dengan SELURUH kehidupan, dan tekanannya LEBIH kepada iman & kualitas bathin. Bukan terletak pada tindakan lahiriah yang ‘tampak‘ religius (baca: Arab).

Akibatnya agama lebih berkutat pada FORMALITAS. Agama tak lagi menjadi jalan hidup manusia untuk menyempurnakan kemanusiaannya.

Banyak sekarang, orang mengaku bahwa ia mengenal Tuhan, tetapi budi pekertinya tidak patut! Pengendalian nafsu tak dipenuhi! Mengesampingkan kesalehan. Syariat yang tanpa MAKNA.

Seharusnya, semakin tinggi tingkat kerohanian seseorang, maka semakin rendahlah emosinya, ekstrimnya hingga dititik nol.

Well, (untuk kesekian kalinya gw nggak lupa bilang) sempurnanya tubuh memang tak akan pernah menjadi jaminan atas sempurnanya jiwa, mas!

=======================================================================================

Comment 2 (From mazbayu_1982 via YM):

mazbayu_1982: jayalah FPI
gw: karena kamu sudah memilih jayalah FPI, aku milih NU berarti hehe..
mazbayu_1982: NU cm berani ngomong aja, gak ada tindakannya

gw: FPI cm berani ngerusak aja, gak ada nuraninya
mazbayu_1982: kan harus tegas
gw: kan harus mikir
mazbayu_1982: NU?chicken

gw: FPI?barbar []

=======================================================================================

Saya ingin kamu mendengar, tidak untuk disetujui, tidak untuk dimengerti. Saya cuma ingin menyatakan..

Older Posts »